Sabtu, 14 Juni 2014

Analisis

ANALISIS NOVEL DAN FILM ‘THE KITE RUNNER’ KARYA KHALED HOSSEINI
(TINJAUAN STRUKTURAL ROBERT STANTON)
OLEH:
NURSYAM

            Dalam menganalisis novel dan film ‘The Kite Runner’ karya Khaled Hosseini, menggunakan teori Struktural Robert Stanton. Robert Stanton, membagi unsur intrinsik fiksi menjadi dua bagian, yaitu fakta cerita dan sarana cerita.
            Stanton kemudian membagi unsur fakta cerita menjadi empat bagian, yakni a) alur, b) tokoh, c) latar dan d) tema, sedangkan  pada sarana cerita terdiri atas lima bagian, yakni a) judul, b) sudut pandang, c) gaya bahasa dan nada, d) simbolisme dan e) ironi.
v Fakta Cerita
            Latar, alur dan karakter merupakan fakta-fakta cerita. Unsur-unsur terebut berfungsi sebagai catatan dalam kejadian imajinatif dari sebuah cerita. apabila dirangkum menjadi satu, maka semua unsur-unsur itu disebut ‘struktur faktual’ atau ‘tingkatan faktual cerita’.
            Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual itu adalah cerita yang disorot dari sudut pandang (stanton, 2007: 22). Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita adalah sebagai berikut:

a.      Alur
            Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007: 26).
            Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur alur memiliki hukum-hukum sendir; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton, 2007: 28).
            Dua elemen dasar yang membangun alur adalah ‘konflikdan klimaks. Konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan tertentu. (Stanton, 2007: 32).
            Menurut Soediro Satoto (1996: 28-29) sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif. Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.
            Dalam film ‘The kite Runner’ karya Khaled Hosseini, alur yang digunakan adalah alur mundur. Film yang disutradarai oleh Marc Foster ini menggunakan alur yang sama dengan novel adaptasinya, yaitu alur mundur atau flashback. Baik film maupun novelnya, cerita dimulai ketika Amir, tokoh sentral dalam cerita ini menerima telfon dari Rahim Khan, sahabat ayahnya yang tinggal di Afganistan. Dari situlah awal cerita selanjutnya dimulai dengan mengenang masa kecil Amir bersama sahabat setianya Hassan, hingga terjadi konflik awal ketika Hassan mengambilkan layang-layang untuk Amir, namun Hassan disodomi oleh musuh mereka yang selalu mengejaknya, puncak konflik ketika mereka terpisah yang dikarenakan oleh ulah Amir yang berusaha memfitnah Hassan, klimaks dan penyelesaiannya ketika Amir tahu bahwa Hassan meninggal dan ia memiliki anak, Amir kemudian berusaha mencari anak itu sebagai tebusan dosanya pada Hassan.
            Tidak berbeda jauh dengan filmnya, novel ‘The Kite Runner’ juga memiliki rohnya sendiri. Pada novelnya, diceritakan secara terperinci mengenai bagian kisah ketika Amir masih masih anak-anak. Hal ini membuat bagian alur pada novelnya lebih spesifik dan lebih banyak. Dalam novel konfliknya lebih banyak terjadi dibanding pada filmnya, tetapi tidak mengurangi essensi dari isi novelnya.
            Dalam novel, intuisi pembaca seolah-olah diajak melihat langsung peristiwa dengan pendeskripsian sejumlah peristiwa yang memicu timbulnya konflik. Hal inilah yang menjadikan nilai lebih pada novel dibanding dengan filmnya. Alur mundur memang membutuhkan penghayatan dan pemahaman yang baik untuk memahami rangakaian cerita secara koherensi.
b.      Tokoh
            Tokoh atau biasa disebut “karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu “tokoh utama yaitu tokoh yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Alasan seorang tokoh untuk bertindak sebagaimana yang dilakukan disebut “motivasi (Stanton, 2007: 33).
            Pada novel dan film “The Kite Runner”, tokoh utamanya tetap sama, yakni Amir. Hanya saja beberapa tokoh pembantu dalam novel “The kite Runner”, tidak dikutsertakan dalam film. Pertimbangannya, karena tokoh pembantu ini kurang memiliki peran yang mendukung cerita secara khusus, sehingga tidak dimasukkan. Contohnya pada novel diceritakan ibu Hassan, tetapi pada filmnya dihilangkan.
            Hal yang menarik pada novel dan filmnya, masing-masing tokoh memilki karakter yang berbeda-beda. Karakter Hassan yang penurut dan pandai membaca arah angin dan selalu berusaha belajar menulis serta rajin berinadah, memperlihatkan perbedaan pada sisi karakter Amir yang selalu bersikap jail kepada Hassan. Kemudian pada sisi penggambaran karakter tokoh lainnya, tidak terlalu di deskripsikan secara umum pada novel dan filmnya, sebab ada tokoh yang terdapat di dalam novel namun tidak dimunculkan pada filmnya, seperti guru mengaji Amir.
            Penulis hanya menggambarkan karakter tokoh Amir dan Hassan, karena kedua tokoh itu menjadi landasan utama di dalam jalinan setiap ceritanya, sehingga keduaya menjadi pokok utama dalam penceritaan, walaupun yang menjadi tokoh utama adalah Amir.
            Kelebihan pada novel dan film ini terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh. Penulis mampu menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas. Dalam drama ini, tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada pada masa tersebut. Penulis juga sangat teliti dalam membuat karakter sebuah tokoh. Semuanya telah diperhitungkan. Tokoh-tokoh berdasarkan karakternya semua lengkap dalam drama ini.
            Hanya saja, sedikit perbedaan antara novel dan film, hanya pada bagian pencitraan tokohnya. Dalam novel, karakter tokoh tergambar dengan sangat rinci, sedangkan pada film, karakter tokoh tidak terlalu lengkap dan juga pada novel penggambaran tokoh Hassan misalnya, berbeda dengan penggambaran pada filmnya. Bibir Hasan seharusnya sumbing, namun pada filmnya tidak demikian, dan begitu juga dengan tokoh pembantu yang ada pada novel tersebut.
c.       Latar
            Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Latar terkadang berpengaruh pada karakter-karakter. Latar juga terkadang menjadi contoh representasi tema. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mode emosional yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan istilah “atmosfer. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang merefleksikan suasana jiwa sang karakter (Stanton, 2007: 35-36).
            Saat harus mengkonfersi sebuah novel ke dalam film, latar merupakan hal yang selalu menjadi masalah terbesar. Pesoalannya adalah betapa sulitnya memvisualkan gambaran yang ada pada novel dengan realitasnya. Seperti mencari tempat yang ada dalam benak penulis pada novel dengan tempat yang sebenarnya. Sehingga, pada pembuatan latar, sutradara film dituntut sekreatif mungkin agar dapat memberikan tempat yang sesuai dengan novelnya.
            Pada film “The Kite Runner” yang disutradarai oleh Marc Foster, ada beberapa latar yang berbeda dengan novelnya. Contohnya, pada penggambaran rumah Amir, di dalam novel dirincikan bahwa rumah Amir adalah rumah yang paling tercantik dan termewah di bagian utara kota Kabul, dengan hisan mawar-mawar yang indah, dan juga pada latar tempat Amir dan Hasan bermain tidak sesuai dengan penggambaran pada novelnya.
            Namun secara umum, latar yang tergambar pada filmnya telah menggambarkan apa yang tergambar pada novelnya, walaupun tidak sama persis tetapi identik atau mendekati kesamaan.
d.      Tema
            Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007: 36). Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema (Stanton, 2007: 37).
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.       Interpretasi yang baik hendaknya selalu menpertimbangkan secara detail hal yang menonjol dalam sebuah cerita. tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi, tidak sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya secara implisit), dan
b.      Interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007: 44-45).
            Pada aspek tema, tidak ada perbedaan ataupun perbandingan yang sangat mencolok pada novel dan filmnya secara keseluruhan. Adapun temanya adalah:
a)      tentang persahabatan dan kesetiaan, dan
b)      penebusan dosa di masa lalu.


Penjelasan.
a)      Amir dan Hasan adalah dua orang yang bersahabat sejak kecil, apapun yang diperintahkan oleh Amir, Hasan selalu mengerjakannya dengan senang hati, demikian pula ketika Hasan meminta Amir untuk membacakan sebuah cerita maka Amir akan melakukannya.
b)      Akibat dari konflik masa lalu, Amir ingin menebus dosanya kepada Hasan dengan berusaha mencari dan menyelamatkan putra Hasan yang menjadi tahanan di Afganistan.

v  Sarana Cerita
            Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi (Stanton, 2007: 46 47).
a.      Judul
            Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang atau merupakan kesimpulan terhadap kedaan yang sebenarnya dalam cerita (Stanton, 1965: 25-26)
            Judul yang digunakan dalam film ini sama dengan judul novelnya, yaitu “The Kite Runner”. Judul ini dipilih penulis karena menggambarkan keseluruhan dari cerita. Dalam novel, diceritakan hobi Amir yang senag bermain layang-layang dengan Hasan semasa mereka kecil. Judul ini juga bermakna filosofis, bahwa layang-layang merupakan penggambaran bahwa betapa pun jauh dan tingginya, benang akan selalu mengikat layang-layang itu. Demikian pula persahabatan, semakin tinggi rasa persabahatan maka tidak ada hal yang dapat membantah kesetiaan.
            Namun, bagaimana pun kuatnya benang yang mengikat layang-layang itu, tetap akan putus dengan hembusan angin yang keras, seperti juga tali persahabatan, walau demikian layang-layang dan benang tak dapat dipisahkan, seperti halnya rasa persahabatan itu walau secara keadaan terputus namun secara rasa tak akan pernah. Itulah yang diperlihatkan oleh Amir dalam menyelamatkan anak Hasan.
b.      Sudut Pandang
            Stanton dalam bukunya membagi sudut pandang menjadi empat tipe utama. Pertama, pada “orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Kedua, pada “orang pertama-sampingan cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan). Ketiga, pada orang ketiga-terbatas pengarang mengacu pada semua karakter dan emosinya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu karakter saja. Keempat, pada orang ketiga-tidak terbatas pengarang mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau perpikir atau saat tidak ada satu karakter pun hadir.
            Pada novel “The Kite Runner” ini penulis menggunakan sudut pandang “orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Artinya, penulis sepenuhnya mengetahui tentang semua seluk beluk dalam novel ini dan secara emosional. Perbedaannya, pada novel sudut pandang yang digunakan merupakan representasi dari imajinasi Khaled Hosseini sebagai penulis. Sedangkan pada film, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari Marc Foster sebagai sutradara.
c.       Gaya dan Tone
            Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton, 2007: 61).
            Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah “toneTone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007: 63). Tone pada cerita ini sangat terlihat pada karakter semua tokoh dalam novel ini. Semua tokoh memainkan karakternya masing-masing mewakili realitas yang ada. Hal ini membuat keseimbangan pada cerita.
            Semua tokoh yang terdapat di dalam novel memilki rincian yang berbeda-beda yang mewakiliki karakternya, seperti yang dideskripsikan pada bagian fakta cerita, yaitu tokoh atau karakter. Walaupun ciri fisik tokoh di dalam novel berbeda di dalam film, tetapi hal demikian tidak mengurangi esensi karakter tokohnya secara umum. Contohnya, ayah digambarkan berbadan besar, tinggi, berjanggut lebat tapi dengan karakternya tetap sama, yaitu pemberani dan penuh perasaan.
d.      Simbolisme
            Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Dua, simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2007:65).
Salah satu bentuk simbol yang khas adalah „momen simbolis. Istilah ini dapat disamaan dengan “momen kunci atau “momen pencerahan (dua istilah ini sering dipakai oleh para kritisi). Momen simbolis, momen kunci, atau momem pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis mereka dibebani oleh makna (Stanton, 2007: 68).
            Adapun simbol yang menarik perhatian dalam novel dan film ini, adalah bentuk tulisan Amir yang menuliskan namanya dengan nama Hassan di batang pohon dengan bentuk tulisan yang bersambung secara vertikal. Hal  ini kemudian memberikan bentuk strata sosial antara Amir dengan Hassan.
e.       Ironi
            Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir semua cerita (terutama yang dikategorikan “bagus). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu “ironi dramatis dan “tone ironis (Stanton, 2007: 71).
            “Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pasangan elemen-elemen di atas terhubung satu sama lain secara logis (biasanya melalui hubungan kausal atau sebab-akibat) (Stanton, 2007: 71). “Tone ironis atau “ironis verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dngan cara berkebalikan (Stanton, 2007: 72).
            Berbicara mengenai ironi, novel ini sangat baik. Diantara eleman-eleman lainnya, kekutaan novel dan film ini terletak pada Ironi yang berhasil dimainkan penulisnya dan sutradaranya. Ada banyak ironi pada novel dan film ini yang bisa dinikmati oleh pembaca dan penonton. Ironi yang terbaik adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk menutupi perasaan sedihnya ketika melihat orang yang dikasihi dianiaya oleh orang lain. Hal ini tampak pada tokoh Amir, yang lebih memilih untuk tidak menolong Hasan ketika disodomi oleh musuhnya, dia lebih memilih acuh dan pergi seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Sinopsis
            Film The kite Runner merupakan Film yang diadaptasi dari sebuah novel yang memiliki judul yang sama yang dikarang oleh Khaled Hoseni. Film The Kite Runner disutradarai oleh sutradara kawakan dan terkenal, yaitu Marc Poster. Pada tahun 2008, Film The Kite Runner mendapatkan penghargaan sebagai Film Asing Terbaik di ajang Piala Oscar. Film The Kite Runner mengisahkan tentang dua sahabat karib yang bernama Amir dan Hassan. Amir merupakan seorang anak keturunan Ras Pashtun (ras terhormat di Afghanistan pada saat itu), ayahnya bernama Agha Sahib, seorang duda yang kaya raya. Sedangkan Hassan hanyalah anak seorang pelayan. Ayah Hassan bernama Ali dan ia merupakan pelayan di rumahAgha Sahib. Hassan merupakan anak keturunan Ras Hazara.
            Amir dan Hassan tinggal di Kabul Afghanistan, dan pada saat itu merupakan era pertempuran antara Taliban dengan Rusia. Amir dan Hassan selalu bermain bersama. Di tempat mereka tinggal, ada seorang anak yang bernama Assef yang memiliki kelainan seksual dan suka menganiaya anak laki-laki bersama geng brutalnya. Pada suatu hari, Assef ingin mencelakai Amir. Namun Hassan menyelamatkan Amir dengan gagah berani. Ia menembakkan ketapel ke mata Assef. Assef meraung kesakitan dan berjanji akan membalas perbuatan itu. Hassan setia mengikuti kemanapun Amir pergi, bahkan ia juga selalu berusaha melindungi Amir dari serangan Assef. Pada saat ulang tahun Hassan, Amir menghadiahi sebuah layang-layang kepada Hassan. Hassan sangat senang sekali menerima hadiah itu dan ia juga berjanji untuk mengajari Amir bermain layang-layang.
            Amir tidak bisa bermain layang-layang dan Hassan adalah seorang pemain layangan yang hebat. Berkat pengajaran dari Hassan, Amir dapat memainkan layang-layang dengan sangat baik. Bahkan pada saat ada pertandingan lokal bermain layang-layang, Amir berhasil memenangkannya. Pada saat Hassan pergi mengambil layang-layang Amir yang terjatuh di suatu tempat, Assef mengikutinya dan berhasil mendapatkan Hassan yang tengah sendirian berada di tempat yang sepi. Pada saat itulah, Assef melakukan tindak kekerasan seksual kepada Hassan. Sebenarnya pada saat kejadian itu, Amir melihatnya. Namun ia memutuskan untuk melarikan diri dan tidak menolong sahabatnya, Hassan, yang telah rela melakukan apapun demi dia.
            Semenjak kejadian itu, Amir menjauh dari Hassan dan berbuat apa saja untuk membuat Hassan bisa pergi jauh dari dirinya. Pada saat itulah Amir memfitnah Hassan telah mencuri jam tangannya. Akibat peristiwa itu, Ali, ayah Hassan memutuskan untuk tidak bekerja lagi untuk keluarga Agha Sahib. Beberapa Tahun kemudian, terjadi invansi besar-besaran oleh Rusia, yang membuat Agha Sahib dan Amir harus mengungsi ke Amerika. Di Amerika, Amir mmenyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang penulis novel. Amir kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Soraya, yang merupakan seorang puteri Jenderal yang bernama Taheri.
            Kemudian, setelah meninggalnya Agha Sahib, ayah Amir, tiba-tiba Amir mendapatkan sebuah surat dari Rahim Khan, yang merupakan rekan kerja dan teman baik ayahnya. Rahim Khan menyuruh Amir untuk pergi ke Pakistan untuk menemui dirinya. Setelah tiba di Pakistan, Rahim Khan menceritakan segala hal kepada Amir. Rahim Khan memberitahu Amir bahwa Hassan sebenarnya adalah saudara tirinya. Saat itulah Amir ingin bertemu kembali dengan Hassan. Namun Hassan telah meninggal bersama istrinya, Farzana. Mereka dibunuh oleh Kelompok Taliban. Namun, anak Hasan masih hidup dan sekarang berada di Afghanistan, di bawah kekuasaan Assef yang sekarang menjadi eksekutor Taliban.
            Amir berniat untuk kembali ke Afghanistan untuk menolong anak Hassan yang bernama Sohrab. Dengan segala cara dan mengeluarkan segenap keberaniaanya saat menghadapi Assef, Amir berhasil membebaskan Sohrab dan membawanya ke Amerika. Ia mengangkat Sohrab sebagai anaknya dan berusaha memenuhi setiap keinginannya, untuk membalas kebaikan temannya, yang tak lain adalah ayah Sohrab, di masa lalu.

REFERENSI
              Hosseini, Khaled. 2003. The Kite Runner. USA: The Berkley Publishing Group.
             Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa .1993. Kamus Besar Bahasa Indoneisa edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
              Suguhastuti dan Rosi Abi. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Jogjakarta: Pustaka Pelajar