ANALISIS NOVEL DAN FILM ‘THE KITE
RUNNER’ KARYA KHALED HOSSEINI
(TINJAUAN STRUKTURAL ROBERT
STANTON)
OLEH:
NURSYAM
Dalam menganalisis novel dan film
‘The Kite Runner’ karya Khaled Hosseini, menggunakan teori Struktural Robert
Stanton. Robert Stanton, membagi unsur intrinsik fiksi menjadi dua bagian,
yaitu fakta cerita dan sarana cerita.
Stanton kemudian membagi unsur fakta
cerita menjadi empat bagian, yakni a) alur, b) tokoh, c) latar dan d) tema,
sedangkan pada sarana cerita terdiri
atas lima bagian, yakni a) judul, b) sudut pandang, c) gaya bahasa dan nada, d)
simbolisme dan e) ironi.
v Fakta Cerita
Latar, alur dan karakter merupakan fakta-fakta cerita.
Unsur-unsur terebut berfungsi sebagai catatan dalam kejadian imajinatif dari sebuah
cerita. apabila dirangkum menjadi satu, maka semua unsur-unsur itu disebut
‘struktur faktual’ atau ‘tingkatan faktual cerita’.
Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita.
Struktur faktual itu adalah cerita yang disorot dari sudut pandang (stanton,
2007: 22). Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita adalah sebagai
berikut:
a. Alur
Secara
umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah
alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal
saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi
dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan
berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007: 26).
Alur
merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat
membuktikan dirinya sendri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah
analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya
pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan
kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur
alur memiliki hukum-hukum sendir; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah,
dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam
kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton,
2007: 28).
Dua
elemen dasar yang membangun alur adalah ‘konflik’dan ‘klimaks’. Konflik utama
selalu bersifat fundamental, membenturkan ‘sifat-sifat’ dan ‘kekuatan-kekuatan’ tertentu. (Stanton, 2007: 32).
Menurut
Soediro Satoto (1996: 28-29) sorot balik (flashback), yaitu urutan
tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif.
Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis
pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu,
peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya
peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju
atau progresif.
Dalam
film ‘The kite Runner’ karya Khaled Hosseini, alur yang digunakan adalah alur
mundur. Film yang disutradarai oleh Marc Foster ini menggunakan alur yang sama
dengan novel adaptasinya, yaitu alur mundur atau flashback. Baik film maupun novelnya, cerita dimulai ketika Amir,
tokoh sentral dalam cerita ini menerima telfon dari Rahim Khan, sahabat ayahnya
yang tinggal di Afganistan. Dari situlah awal cerita selanjutnya dimulai dengan
mengenang masa kecil Amir bersama sahabat setianya Hassan, hingga terjadi
konflik awal ketika Hassan mengambilkan layang-layang untuk Amir, namun Hassan
disodomi oleh musuh mereka yang selalu mengejaknya, puncak konflik ketika
mereka terpisah yang dikarenakan oleh ulah Amir yang berusaha memfitnah Hassan,
klimaks dan penyelesaiannya ketika Amir tahu bahwa Hassan meninggal dan ia
memiliki anak, Amir kemudian berusaha mencari anak itu sebagai tebusan dosanya
pada Hassan.
Tidak
berbeda jauh dengan filmnya, novel ‘The Kite Runner’ juga memiliki rohnya
sendiri. Pada novelnya, diceritakan secara terperinci mengenai bagian kisah
ketika Amir masih masih anak-anak. Hal ini membuat bagian alur pada novelnya
lebih spesifik dan lebih banyak. Dalam novel konfliknya lebih banyak terjadi dibanding
pada filmnya, tetapi tidak mengurangi essensi dari isi novelnya.
Dalam
novel, intuisi pembaca seolah-olah diajak melihat langsung peristiwa dengan
pendeskripsian sejumlah peristiwa yang memicu timbulnya konflik. Hal inilah
yang menjadikan nilai lebih pada novel dibanding dengan filmnya. Alur mundur
memang membutuhkan penghayatan dan pemahaman yang baik untuk memahami rangakaian
cerita secara koherensi.
b.
Tokoh
Tokoh
atau biasa disebut “karakter‟ biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks
pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita.
Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai
kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu
tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu “tokoh utama‟ yaitu tokoh
yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Alasan
seorang tokoh untuk bertindak sebagaimana yang dilakukan disebut “motivasi‟ (Stanton, 2007:
33).
Pada
novel dan film “The Kite Runner”, tokoh utamanya tetap sama, yakni Amir. Hanya
saja beberapa tokoh pembantu dalam novel “The kite Runner”, tidak dikutsertakan
dalam film. Pertimbangannya, karena tokoh pembantu ini kurang memiliki peran
yang mendukung cerita secara khusus, sehingga tidak dimasukkan. Contohnya pada novel
diceritakan ibu Hassan, tetapi pada filmnya dihilangkan.
Hal
yang menarik pada novel dan filmnya, masing-masing tokoh memilki karakter yang
berbeda-beda. Karakter Hassan yang penurut dan pandai membaca arah angin dan
selalu berusaha belajar menulis serta rajin berinadah, memperlihatkan perbedaan
pada sisi karakter Amir yang selalu bersikap jail kepada Hassan. Kemudian pada
sisi penggambaran karakter tokoh lainnya, tidak terlalu di deskripsikan secara
umum pada novel dan filmnya, sebab ada tokoh yang terdapat di dalam novel namun
tidak dimunculkan pada filmnya, seperti guru mengaji Amir.
Penulis
hanya menggambarkan karakter tokoh Amir dan Hassan, karena kedua tokoh itu
menjadi landasan utama di dalam jalinan setiap ceritanya, sehingga keduaya
menjadi pokok utama dalam penceritaan, walaupun yang menjadi tokoh utama adalah
Amir.
Kelebihan
pada novel dan film ini terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter
tokoh. Penulis mampu menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas.
Dalam drama ini, tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada
pada masa tersebut. Penulis juga sangat teliti dalam membuat karakter sebuah
tokoh. Semuanya telah diperhitungkan. Tokoh-tokoh berdasarkan karakternya semua
lengkap dalam drama ini.
Hanya
saja, sedikit perbedaan antara novel dan film, hanya pada bagian pencitraan tokohnya.
Dalam novel, karakter tokoh tergambar dengan sangat rinci, sedangkan pada film,
karakter tokoh tidak terlalu lengkap dan juga pada novel penggambaran tokoh
Hassan misalnya, berbeda dengan penggambaran pada filmnya. Bibir Hasan
seharusnya sumbing, namun pada filmnya tidak demikian, dan begitu juga dengan
tokoh pembantu yang ada pada novel tersebut.
c.
Latar
Latar
adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang
berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat
berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Latar terkadang
berpengaruh pada karakter-karakter. Latar juga terkadang menjadi contoh
representasi tema. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki
daya untuk memunculkan tone dan mode emosional
yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan
istilah “atmosfer‟. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang
merefleksikan suasana jiwa sang karakter (Stanton, 2007: 35-36).
Saat
harus mengkonfersi sebuah novel ke dalam film, latar merupakan hal yang selalu
menjadi masalah terbesar. Pesoalannya adalah betapa sulitnya memvisualkan
gambaran yang ada pada novel dengan realitasnya. Seperti mencari tempat yang
ada dalam benak penulis pada novel dengan tempat yang sebenarnya. Sehingga,
pada pembuatan latar, sutradara film dituntut sekreatif mungkin agar dapat
memberikan tempat yang sesuai dengan novelnya.
Pada
film “The Kite Runner” yang disutradarai oleh Marc Foster, ada beberapa latar
yang berbeda dengan novelnya. Contohnya, pada penggambaran rumah Amir, di dalam
novel dirincikan bahwa rumah Amir adalah rumah yang paling tercantik dan
termewah di bagian utara kota Kabul, dengan hisan mawar-mawar yang indah, dan
juga pada latar tempat Amir dan Hasan bermain tidak sesuai dengan penggambaran
pada novelnya.
Namun
secara umum, latar yang tergambar pada filmnya telah menggambarkan apa yang
tergambar pada novelnya, walaupun tidak sama persis tetapi identik atau
mendekati kesamaan.
d.
Tema
Tema
merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna‟ dalam pengalaman manusia; sesuatu yang
menjadikan suatu pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007: 36). Tema membuat
cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan
akhir akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema (Stanton,
2007: 37).
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai
berikut:
a. Interpretasi yang baik hendaknya selalu
menpertimbangkan secara detail hal yang menonjol dalam sebuah cerita. tidak
terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi, tidak
sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan
(hanya secara implisit), dan
b. Interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan
secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007: 44-45).
Pada
aspek tema, tidak ada perbedaan ataupun perbandingan yang sangat mencolok pada
novel dan filmnya secara keseluruhan. Adapun temanya adalah:
a) tentang persahabatan dan kesetiaan, dan
b) penebusan dosa di masa lalu.
Penjelasan.
a) Amir dan Hasan adalah dua orang yang bersahabat sejak
kecil, apapun yang diperintahkan oleh Amir, Hasan selalu mengerjakannya dengan
senang hati, demikian pula ketika Hasan meminta Amir untuk membacakan sebuah
cerita maka Amir akan melakukannya.
b) Akibat dari konflik masa lalu, Amir ingin menebus
dosanya kepada Hasan dengan berusaha mencari dan menyelamatkan putra Hasan yang
menjadi tahanan di Afganistan.
v
Sarana Cerita
Sarana-sarana
sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail
cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena
dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang,
memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi
(Stanton, 2007: 46 47).
a.
Judul
Judul
berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar,
dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya
sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul
juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang
atau merupakan kesimpulan terhadap kedaan yang sebenarnya dalam cerita
(Stanton, 1965: 25-26)
Judul
yang digunakan dalam film ini sama dengan judul novelnya, yaitu “The Kite
Runner”. Judul ini dipilih penulis karena menggambarkan keseluruhan dari
cerita. Dalam novel, diceritakan hobi Amir yang senag bermain layang-layang
dengan Hasan semasa mereka kecil. Judul ini juga bermakna filosofis, bahwa layang-layang
merupakan penggambaran bahwa betapa pun jauh dan tingginya, benang akan selalu
mengikat layang-layang itu. Demikian pula persahabatan, semakin tinggi rasa
persabahatan maka tidak ada hal yang dapat membantah kesetiaan.
Namun,
bagaimana pun kuatnya benang yang mengikat layang-layang itu, tetap akan putus
dengan hembusan angin yang keras, seperti juga tali persahabatan, walau
demikian layang-layang dan benang tak dapat dipisahkan, seperti halnya rasa
persahabatan itu walau secara keadaan terputus namun secara rasa tak akan
pernah. Itulah yang diperlihatkan oleh Amir dalam menyelamatkan anak Hasan.
b.
Sudut Pandang
Stanton
dalam bukunya membagi sudut pandang menjadi empat tipe utama. Pertama, pada “orang
pertama-utama‟ sang
karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Kedua, pada “orang
pertama-sampingan‟ cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama
(sampingan). Ketiga, pada ‟orang ketiga-terbatas‟ pengarang mengacu pada semua karakter dan
emosinya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat,
didengar, dan dipikirkan oleh satu karakter saja. Keempat, pada ‟orang ketiga-tidak terbatas‟ pengarang
mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga.
Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau
perpikir atau saat tidak ada satu karakter pun hadir.
Pada
novel “The Kite Runner” ini penulis menggunakan sudut pandang “orang
pertama-utama‟ sang
karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Artinya, penulis
sepenuhnya mengetahui tentang semua seluk beluk dalam novel ini dan secara
emosional. Perbedaannya, pada novel sudut pandang yang digunakan merupakan
representasi dari imajinasi Khaled Hosseini sebagai penulis. Sedangkan pada
film, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari Marc Foster
sebagai sutradara.
c.
Gaya dan Tone
Dalam
sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang
pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya
bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan
penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat,
detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari
berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton,
2007: 61).
Satu
elemen yang amat terkait dengan gaya adalah “tone‟. Tone adalah
sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa
menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius,
senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007: 63). Tone pada cerita
ini sangat terlihat pada karakter semua tokoh dalam novel ini. Semua tokoh
memainkan karakternya masing-masing mewakili realitas yang ada. Hal ini membuat
keseimbangan pada cerita.
Semua
tokoh yang terdapat di dalam novel memilki rincian yang berbeda-beda yang mewakiliki
karakternya, seperti yang dideskripsikan pada bagian fakta cerita, yaitu tokoh
atau karakter. Walaupun ciri fisik tokoh di dalam novel berbeda di dalam film,
tetapi hal demikian tidak mengurangi esensi karakter tokohnya secara umum.
Contohnya, ayah digambarkan berbadan besar, tinggi, berjanggut lebat tapi
dengan karakternya tetap sama, yaitu pemberani dan penuh perasaan.
d.
Simbolisme
Dalam
fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung
pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang
muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa
tersebut. Dua, simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan
beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul
pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton,
2007:65).
Salah satu bentuk simbol yang khas adalah „momen
simbolis‟. Istilah ini dapat
disamaan dengan “momen kunci‟ atau “momen pencerahan‟ (dua istilah
ini sering dipakai oleh para kritisi). Momen simbolis, momen kunci, atau momem
pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis
mereka dibebani oleh makna (Stanton, 2007: 68).
Adapun
simbol yang menarik perhatian dalam novel dan film ini, adalah bentuk tulisan
Amir yang menuliskan namanya dengan nama Hassan di batang pohon dengan bentuk
tulisan yang bersambung secara vertikal. Hal
ini kemudian memberikan bentuk strata
sosial antara Amir dengan Hassan.
e.
Ironi
Secara
umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan
dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir
semua cerita (terutama yang dikategorikan “bagus‟). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal
luas yaitu “ironi dramatis‟ dan “tone ironis‟ (Stanton, 2007: 71).
“Ironi
dramatis‟ atau ironi alur
dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan
realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dan hasilnya, atau antara
harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pasangan elemen-elemen di atas
terhubung satu sama lain secara logis (biasanya melalui hubungan kausal atau
sebab-akibat) (Stanton, 2007: 71). “Tone ironis‟ atau “ironis verbal‟ digunakan untuk
menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dngan cara berkebalikan
(Stanton, 2007: 72).
Berbicara
mengenai ironi, novel ini sangat baik. Diantara eleman-eleman lainnya, kekutaan
novel dan film ini terletak pada Ironi yang berhasil dimainkan penulisnya dan
sutradaranya. Ada banyak ironi pada novel dan film ini yang bisa dinikmati oleh
pembaca dan penonton. Ironi yang terbaik adalah bagaimana kemampuan seseorang
untuk menutupi perasaan sedihnya ketika melihat orang yang dikasihi dianiaya
oleh orang lain. Hal ini tampak pada tokoh Amir, yang lebih memilih untuk tidak
menolong Hasan ketika disodomi oleh musuhnya, dia lebih memilih acuh dan pergi
seolah-olah tidak tahu apa-apa.
Sinopsis
Film The kite Runner
merupakan Film yang diadaptasi dari sebuah novel yang memiliki judul yang sama
yang dikarang oleh Khaled Hoseni. Film The Kite Runner disutradarai oleh
sutradara kawakan dan terkenal, yaitu Marc Poster. Pada tahun 2008, Film The
Kite Runner mendapatkan penghargaan sebagai Film Asing Terbaik di ajang Piala
Oscar. Film The Kite Runner mengisahkan tentang dua sahabat karib yang bernama
Amir dan Hassan. Amir merupakan seorang anak keturunan Ras Pashtun (ras
terhormat di Afghanistan pada saat itu), ayahnya bernama Agha Sahib, seorang
duda yang kaya raya. Sedangkan Hassan hanyalah anak seorang pelayan. Ayah
Hassan bernama Ali dan ia merupakan pelayan di rumahAgha Sahib. Hassan
merupakan anak keturunan Ras Hazara.
Amir dan Hassan tinggal
di Kabul Afghanistan, dan pada saat itu merupakan era pertempuran antara
Taliban dengan Rusia. Amir dan Hassan selalu bermain bersama. Di tempat mereka
tinggal, ada seorang anak yang bernama Assef yang memiliki kelainan seksual dan
suka menganiaya anak laki-laki bersama geng brutalnya. Pada suatu hari, Assef
ingin mencelakai Amir. Namun Hassan menyelamatkan Amir dengan gagah berani. Ia
menembakkan ketapel ke mata Assef. Assef meraung kesakitan dan berjanji akan
membalas perbuatan itu. Hassan setia mengikuti kemanapun Amir pergi, bahkan ia
juga selalu berusaha melindungi Amir dari serangan Assef. Pada saat ulang tahun
Hassan, Amir menghadiahi sebuah layang-layang kepada Hassan. Hassan sangat
senang sekali menerima hadiah itu dan ia juga berjanji untuk mengajari Amir
bermain layang-layang.
Amir tidak bisa bermain
layang-layang dan Hassan adalah seorang pemain layangan yang hebat. Berkat
pengajaran dari Hassan, Amir dapat memainkan layang-layang dengan sangat baik.
Bahkan pada saat ada pertandingan lokal bermain layang-layang, Amir berhasil
memenangkannya. Pada saat Hassan pergi mengambil layang-layang Amir yang
terjatuh di suatu tempat, Assef mengikutinya dan berhasil mendapatkan Hassan
yang tengah sendirian berada di tempat yang sepi. Pada saat itulah, Assef
melakukan tindak kekerasan seksual kepada Hassan. Sebenarnya pada saat kejadian
itu, Amir melihatnya. Namun ia memutuskan untuk melarikan diri dan tidak
menolong sahabatnya, Hassan, yang telah rela melakukan apapun demi dia.
Semenjak kejadian itu,
Amir menjauh dari Hassan dan berbuat apa saja untuk membuat Hassan bisa pergi
jauh dari dirinya. Pada saat itulah Amir memfitnah Hassan telah mencuri jam
tangannya. Akibat peristiwa itu, Ali, ayah Hassan memutuskan untuk tidak
bekerja lagi untuk keluarga Agha Sahib. Beberapa Tahun kemudian, terjadi invansi
besar-besaran oleh Rusia, yang membuat Agha Sahib dan Amir harus mengungsi ke
Amerika. Di Amerika, Amir mmenyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang
penulis novel. Amir kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Soraya, yang
merupakan seorang puteri Jenderal yang bernama Taheri.
Kemudian,
setelah meninggalnya Agha Sahib, ayah Amir, tiba-tiba Amir mendapatkan sebuah
surat dari Rahim Khan, yang merupakan rekan kerja dan teman baik ayahnya. Rahim
Khan menyuruh Amir untuk pergi ke Pakistan untuk menemui dirinya. Setelah tiba
di Pakistan, Rahim Khan menceritakan segala hal kepada Amir. Rahim Khan
memberitahu Amir bahwa Hassan sebenarnya adalah saudara tirinya. Saat itulah
Amir ingin bertemu kembali dengan Hassan. Namun Hassan telah meninggal bersama istrinya,
Farzana. Mereka dibunuh oleh Kelompok Taliban. Namun, anak Hasan masih hidup
dan sekarang berada di Afghanistan, di bawah kekuasaan Assef yang sekarang
menjadi eksekutor Taliban.
Amir
berniat untuk kembali ke Afghanistan untuk menolong anak Hassan yang bernama
Sohrab. Dengan segala cara dan mengeluarkan segenap keberaniaanya saat
menghadapi Assef, Amir berhasil membebaskan Sohrab dan membawanya ke Amerika.
Ia mengangkat Sohrab sebagai anaknya dan berusaha memenuhi setiap keinginannya,
untuk membalas kebaikan temannya, yang tak lain adalah ayah Sohrab, di masa
lalu.
REFERENSI
Hosseini, Khaled. 2003. The Kite Runner. USA: The Berkley
Publishing Group.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa .1993. Kamus Besar
Bahasa Indoneisa edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
Suguhastuti dan Rosi Abi.
2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Jogjakarta: Pustaka Pelajar