Minggu, 08 November 2015

Narasi Kepergianmu

            Tanggal 5 Juli adalah hari yang paling kamu nantikan. Hampir sepanjang waktu sebelum tanggal itu tiba, kamu selalu mengatakan akan pergi, meski aku selalu memarahimu karena kata “pergi”. Kata itu selalu kamu ucapkan tanpa memperdulikan perasaanku yang selalu kuwakilkan di balik senyum kecut yang tersimpul dihadapanmu, ketika kamu ucapkan kembali kata itu.
            Entah dengan cara apa, aku harus menyampaikan kekesalanku dengan sikapmu yang seolah-olah tak perduli dengan “perpisahan” yang akan membatasi perjumpaan kita. Detik demi detik, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bahkan bulan ke bulan tak pernah aku bayangkan jika aku melalui itu semua tanpa sosok kehadiranmu di sisiku sebagai pendamping menghadapi waktu.
            Hari-hariku bermakna dan penuh dengan pelangi keceriaan, kini tak lagi seindah sebelumnya. Matahari seakan enggan menampakkan sinarnya dari ufuk timur, karena tertutup kabut awan kelabu yang sepertinya akan meneteskan gerimis. Aku hadapi hari yang cukup panjang bersama kesepian di menemaniku. Malam yang ku nantikan dengan berharap sang ratu malam dapat berbagi kebahagiaan dengan cahayanya penerang malam kelam dan sunyi, tetapi kenyataannya dia juga bersembunyi di balik gelapnya langit, tertutup gulita pemguasa malam.
            Malam sebelum keberangkatanmu kembali pada tanah kelahiranmu, mataku enggan tertutup, mulut terjangkit bisu, tampaknya pikiranku penyebab semua itu. Aku lewati malam yang panjang, tanpa pernah terjaga dari tidurku. Entah apa yang aku rasakan malam itu. Semuanya terasa berbeda padahal keadaannya masih sama. Dadaku mendadak sesak dan keringat mengucur dari dasar mataku. Aku meninggalkanmu malam itu, malam sebelum keberangkatanmu kembali pada tanah kecintaanmu yang jauh di seberang pulau,  bahkan dalam pikiranku tak pernah terjamah bentuk dan suasananya. Aku termenung kaku, menjelajah dalam maya pikiran, mengapa tingkahku tak seperti biasanya. Kebisingan di sekitarku terasa hanyalah nada penumbuh sedih kemudian subur menjadi duka dalam deritaku.
            Dua tahun lima bulan kurang lama belas hari, kita telah terikat dengan ikatan abstrak, yang selalu ku sebut itu cinta. Cinta yang melenakanku dalam setiap gulir waktu. Cinta yang membuatku selalu menyangjungku, mengasihimu bahkan menyayangi lebih dari aku menyaynagi diriku sendiri. Tetapi, tiba pada saat itu, malam sebelum keberangkatanmu, cinta yang aku puja selama itu, seakan luntur bagai tak berwarna lagi, bahkan kelabu tak lagi terlihat di sana. Semuanya seakan menjauhi dan meninggalkanku dalam keterpurukan dan kesendirian.
            Malam itu kita bertengkar kecil. Aku meninggalkanmu sendiri walau aku tahu kamu membutuhkanku saat-saat waktu keberangkatanmu tiba. Tapi bukankah aku meninggalkanmu dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada persoalan di antara kita? Aku pergi dengan berpamit seperti biasanya, kamu mencium tangan kanganku dan berucap salam. Tapi aku masih belum paham, mengapa semua itu terasa berbeda bagimu?
            Aku akui, aku telah bersalah tak menghiraukan perasaanmu malam itu. Aku tahu betul kalau kamu sangat butuh diriku untuk melepasakan dahaga kerinduamu dengan berharap aku bisa jadi air penawar malam itu. Tapi, aku tak ingin memberimu dosa. Jangankan dosa, menyakitimu saja tak pernah terlintas dalam benakku untuk melakukan itu, sebab cinta yang bermuara pada hatiku, telah aku serahkan padamu sebagai wujud kasih sayangku dalam ikatan cinta ikatan abstrak itu.
Malam menghampiri fajar. Mentari bersiap menggeser kedudukan sang ratu malam, aku semakin tak karuan bertingkah. Mungkin karena perpisahan ini akan berbeda.
            “Besok ndak usah datang jemput, aku akan pakai mobil sewa saja. Oke!! Ketemunya nanti kalo aku udah balik lagi ke Makassar”. Kalimat yang masuk di kotak pesanku, sebelum aku sempat berangkat ke tempatmu, sungguh itu menyayat sanubariku yang masih kalut dan merana. Tidakkah kamu sadari jika pesan yang kamu kirim itu adalah belatih yang menghujam tepat di posisi jantungku berada, hingga seluruh anggota badanku tak dapat aku gerakkan. Semuanya terasa kaku dan mati.
Sebelum pesan itu sempat aku kirim balasannya, pesanmu yang kedua masuk dengan nada bisu di ponselku.
            “Maafkan jika aku terlalu egois, tapi inilah aku”.
            Kalimat itu tersimpul sirat maksud, bahwa kata egois itu sebenarnya tertuju padaku. Aku mengerti jika kekesalanmu terlampiaskan dengan pesan itu, tapi haruskah aku membayar mahal dengan perpsisahan tanpa pertemuan di antara kita? Setidaknya senyumku dapat mengantarmu sampai pada dermaga tempat kapal bersandar yang akan membawamu jauh dan kita terpisah karena jarak.
            Kamu telah berhasil membuatku merasa bersalah dan berdosa telah mengabaikan detik yang kamu lalui malam itu, andai kalimat ini kamu baca, mungkin sikapmu akan berbeda terhadapku.
Malam sebelum kamu berangkat, aku telah menyiapakan sebuah kado kecil yang akan menemanimu dalam perjalanan menuju tanah leluhurmu. Kado itu aku akan berikan saat kamu akan menaiki kapal tempatmu berlabuh, sebuah kejutan kecil penghapus rasa sedihmu karena perpisahan ini. Tetapi, amarahmu telah menguasai pikiranmu, hingga tindakanmu tak dapat kamu kendalikan.
            Kamu meniggalkanku dengan kado yang tak tersampaikan ini. Kamu menghukumku dengan beban derita yang mungkin rasa sakitnya tak pernah ada penawarnya. Haruskah aku mengejarmu dengan keterbatasanku, berkirim kabar lewat pesan singkat. Langkahku terhenti dan bersandar di persimpangan yang tak dapat aku tentukan kemana arah harus mengejarmu memberikan kado ini dan sepujuk surat cinta untukmu sebagai pelipur lara kala rindu menghantuimu. Surat itu telah aku gambar wajahku dengan hiasan kalimat sastra penuh makna, tapi semuanya sia-sia saja, waktu tak dapat aku gulirkan kembali. Roda waktu terus bergulir tanpa ada kuasa menghentikannya, walau hanya sekejap saja. Kamu pergi membawa lara, meninggalkan duka dalam kado kesedihan berhias penyesalan. Semoga angin membisikkan untaian kalimatku yang tak sempat terdengar olehmu.
*****




























@syam-panritalopi
Jilbab Merahmuda part 1
Sejak kamu mampir dalam hidupku, entah sengaja ataukah sudah ketentuan takdir, kamu dan aku akhirnya bersua pada momen yang menggembirakan. Pesta malam itu, kamu hadir dengan sejuta pesona yang bertebaran di ujung jilbabmu berwarna merahmuda. Mungkin kamu tidak menyadari bahwa seorang lelaki melirik dan sesekali mencuri pandang ke arahmu. Senyum di garis bibirmu yang bermadu semakin menambah syahdu retinaku yang menatapmu tiada henti, bahkan degupan jantungku melebihi dahsyatnya getaran gempa. Jika menatapmu adalah sebuah kekhilafan syahwat, maka biarakanlah aku larut dalam dosa, kelopak mata ini selalu terarah pada wajahmu yang memancarkan sinar keanggunan.
Malam itu merupakan malam beranugerah bagiku, seribu doa ku panjatkan kepada-Nya, agar suatu masa kita dapat bersua meski aku tak tahu siapa namamu dan tinggal dimana. Malam itu cepat berlalu, mentari menyapa dan semuanya berubah menjadi satu warna yang kelabu dan tak kudapati warnamu di sana, mungkin kesucianmu meluluhkan segalanya hingga kamu lebur dan menyatu bersama pancaran sinar sang mentari pengantar raja siang menguasai hari ini.
Semenjak malam itu cepat berlalu, mata ini enggan terpejam dan ingatanku selalu terjaga teringat akan sosokmu yang indah, bayanganmu menjelma di antara cahaya pijar bola lampu yang menggantung di atas tempat tidurku. Merahmuda begitu menyatu dengan raut wajah polosmu, garis bibirmu bagai cakrawala membentang di angkasa perias bulatnya langit. Jika saja aku seorang pujangga, entah berapa ribu puisi tercipta hanya dengan memuji sosokmu, tapi sayangnya aku hanyalah seorang pemimpi yang berpetualang di alam maya berkelana membuntuti bayangmu.
Melihatmu malam itu sungguh merupakan malam sejuta keajaiban bagiku, cerita dongeng tentang bidadari itu benar nyata setelah melihat sosokmu, walau tanpa sayap namun kharismamu menutupi kekurangan. Semoga saja malam itu terulang kembali, hingga kitapun dapat bertemu lagi, karena aku tak ingin menjadi pungguk perindu bulan.
Kini hari silih berganti, tetapi sosokmu tak lekang oleh memoriku. Hari ini adalah hari ketiga puluh setelah malam itu. Doa-doa yang kupanjatkan tak dapat kuhitung banyaknya. Pintaku hanya satu yang terus kuulang dalam untaian doa, bertemu denganmu lagi wahai bidadari penebar pesona keindahan dari ciptaan-Nya. Jika kita di takdirkan bertemu kembali, maka pada saat itu tak akan kulewatkan sedetikpun untuk mempertanyakan segalanya tentangmu, bahkan setidaknya aku tahu siapa panggilanmu.
Setelah beribu kali merengek dalam doa, akhirnya saat yang aku nantikan setelah ribuan menit terlewatkan, aku melihatmu tanpa sengaja di sebuah keramaian tempat orang datang dan pergi dengan tujuan mereka masaing-masing. Aku melihatmu dari kejauhan dan memperhatikan gelagakmu, mungkin saja kamu sedang menunggu seseorang atau akan melakukan perjalanan jauh dengan ransel besar yang kamu bawa serta kala itu. Langkahku segera saja membawaku menghampirimu meski mungkin kamu tak ingat aku, tapi setidaknya bibirku menyapamu ketika itu.
“Hai!!, maaf ganggu. Kamu yang malam itu pakai jilbab merahmuda kan?”. Dengan haru-biru bercampur deg-degan bibir ini melontarkan kalimat spontan dengan aksenku terkesan kampungan penuh semangat.
Senyum itu yang tak dapat aku hilangkan dari memoriku, senyum yang kamu suguhkan ketika menoleh ke arahku dan menjawab pertanyaanku. “Maaf ya, anda siapa? dan malam itu? Maksudnya?”. Kamu terlihat bingung dan tak mengerti maksudku.
“Sebulan yang lalu kamu datang ke pesta pernikahan kakaknya Riska kan? Aku juga datang, dan aku lihat kamu pakai jilbab merahmuda di sana saat itu”.
Beberapa detik kamu berpikir dan akhirnya ingat juga waktu itu. “Oh, iya, benar, koq masih ingat saja sih, kan udah lumayan lama. …………….”.
Perbincangan kita saat perjumpaan di terminal kala itu, kini menjadi kisah bersejarah dalam hidupku. Kita sering bermukanikasi bahkan intens berbagi kerinduan satu sama lain. Kebersamaan kita akhirnya  menuai benih asmara, aku berkeinginan menyatakan perasaan yang setelah sekian lama terpendam di sanubari tanpa dasar dalam hatiku dan tetap utuh tanpa terkikis oleh jarak dan waktu.
Hari yang kunanti tanpa henti tiba juga, aku akan lumatkan kalimat saktiku padamu, kamu mengajakku bertemu di tempat ketika aku dan kamu berbincang untuk pertama kalinya. Kamu duduk sembari melihat jam tangan di pergelangan tangan kananmu dengan raut wajah cemas campur gelisah, entah kamu sedang menunggu seseorang ataukah akan bepergian jauh, sebab aku lihat ransel pakaianmu di bawa serta hari itu. Rencana untuk mengujarkan kalimat saktiku jadi terasa terganggu. Aku hanya bisa pandang kegelisahan yang membuncah di sorot retinamu. Aku seringkali mengajakmu bicara tetapi hanya sesekali kamu perhatikan dan jawab pertanyaanku.
Tak lama kemudian, sebuah mini bus berhenti di hapan kita, kamu dengan spontan berdiri dan sedikit terburu-buru mengangkat ranselmu ke atas mobil itu dan tak butuh waktu lama kamu pun berada di dalamnya. Aku hanya heran saja tanpa bias menebak yang terjadi bahkan kuterpaku tak dapat berbuat apapun saat itu. Dari atas mobil, kamu memanggilku dari balik jendela. Aku menghampirimu dengan menitipkan kerinduan di pangkuanmu agar kamu bisa bawa serta jadi teman penghibur dalam perjalananmu. Kamu menyodorkan selembar kertas, ternyata itu adalah potretmu. Aku membisu, diam seribu bahasa dan tak mengerti maksud dari semua ini, aku terperanjat kaku. Mobil yang kamu tumpangi bergerak pergi, aku masih berdiri kaku di tempatku, aku tak mendengar ucapan selamat tinggal dari bibirmu, kamu tunjuk potret yang kamu sodorkan lalu berkata “senyumku abadi di situ!”, lalu mobil itu bergerak membawamu pergi, mungkin saja kita adalah jelmaan roda mobil itu yang selalu beriring berdampingan tapi tak pernah bertemu pada satu titik, ataukah takdir sedang mempermainkan kita, bukankah roda waktu berputar hanya untuk melewati pertemuan dan memberikan balada perpisahan pada akhirnya? Huffttmm, mungkin saja jawabnya ada di balik awan yang mengikuti sang raja siang kembali ke peraduannya, agar sang dewi malam bisa menyapaku, setidaknya menemaniku menikmati kesunyian tanpamu.
Jika mengenangmu adalah sebuah kesalahan, aku hanya ingin dihukum bertemu denganmu kembali. Bukankah hidup hanyalah dua hari, satu hari kesedihan dan hari berikutnya kebahagiaan. Aku telah usai menempuh dan melewati tumpuan hari yang melelahkan fisik terlebih lagi derita batin menjangkiti dasar sukmaku, mungkin aku telah lewati hari pertama dan berhak mendapatkan hari berikutnya. Asal kamu tahu saja, sejak kamu pergi meninggalkanku, temanku hanyalah kesepian.
Kamu telah pergi dengan bagian yang hilang, itulah sebabnya kamu selalu menghantuiku dengan bayangmu melintasi imajinasi dalam benakku yang kaku akan dirimu. Aku hanya tidak ingin jadi musafir, rutin bertemu lalu berpisah dan melupakan. Tentangmu tak akan menjadi kenanganku tapi realitaku. Jika, Tuhan menuntun arah langkahku menuju padamu, akankah derita ini kamu balut dengan kerinduan?
*****




@syam_panritalopi

 Essai Cinta

            Jika air sungai terus mengalir dari hulu hingga ke muara, airnya akan tetap mengikuti jalur dan arus, walau tak tahu pasti kapan akan berhenti pada muara yang membuatnya tenang dan menyatu dengan genangan air yang lainnya. Begitupula dengan rasa cinta. Cinta selalu membuat yang mustahil jadi nyata, meski berusaha mengingkarinya, tetapi cinta tidak pernah salah dalam menentukan pilihan. Kedatangannya begitu tiba-tiba dan misterius, tiada yang dapat merencanakan akan kehadirannya dan kepada siapa ia akan bersua. Getaran jantung buat dada bergetar, hati gelisah tak karuan hingga pikiran pun tak tenang, melayang-layang, menandakan seseorang itulah dilanda kasmaran yang ditimbulkan oleh kehadiran cinta.
            Problematika tentang cinta tak pernah lapuk oleh masa dan tak akan lekang oleh zaman, sebab keberadaannya telah menandai terciptanya makhluk yang bernama Adam. Bukankah Adam tercipta dari cinta sang Ilahi. Seringkali kita mendengar legenda tentang cinta manusia pertama, tentang Adam yang mencintai Hawa, yang konon katanya tercipta dari bagian dirinya. Adam adalah lambang dari kebesaran dan keperkasaan para lelaki hingga masa kini, dan Hawa, bukankah ia adalah bagian yang terpenting dari lelaki itu sendiri yang selalu disematkan pada kaum perempuan.
            Betapa fenomena cinta telah mewarnai dunia dengan segala warnanya. Dari Adam dan Hawa hingga kini pada manusia akhir zaman selalu membicarakan tentang cinta. Ada apa dengan cinta? Jawabannya selalu berada pada seseorang yang pernah merasakannya, baik itu sesaat maupun selamanya dalam hidupnya. Cinta banyak golongannya, tetapi cinta yang sanantiasa membawa kemudaratan adalah cinta yang dikamuflase oleh nafsu. Mencintai adalah hak setiap manusia, dan dicintai adalah anugerah yang seharusnya disyukuri.
            Entah cinta ataupun nafsu, pertandanya hanyalah kekosongan belaka, toh semuanya dikendalikan oleh pikiran yang pada akhirnya membawa pengaruh pada nurani. Menurut kisah, Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, hingga mereka bersatu menjadi satu bagian yang utuh dan sempurna. Bukankah cinta pun demikian? Pasangan jiwa telah ditakdirkan-Nya, sebelum kita menatap dunia dengan segala keindahan dan kesenangan yang ditawarkannya sewaktu malaikat roh meniupkan kehidupan pada jasad kita, ketika keluar dari kandungan sang ibu. Seiring dengan itu, waktu berganti dan bumi terus berputar hingga penantian waktu dimana hari tiba, kita akan dipertemuakan oleh sosok yang menggetarkan jiwa dan hati yang kemudian kita menyebutnya itu cinta.
            Lantas, siapakah yang menjadi penuntun kita dalam menemukan sosok itu? Apakah jodoh akan melakukannya? Semua tanya yang tiada menuai jawab, akan berakhir pada kalimat kepasrahan, mengembalikan semuanya kepada-Nya, dan berserah diri, termasuk persoalan cinta dan memilih serta menentukan cinta kepada siapa ia akan berjodoh. Bukankah jodoh ada ditangan masing-masing setiap insan yang merupakan anugerah dan karunai dari-Nya. Segalanya tak akan pernah terpisah dari kehendak-Nya. Bukankah setiap manusia harus mengimani yang tak kasat mata? Jika kita memegang jodoh itu sendiri, maka percayalah, jalan Tuhan akan memberikan cahayanya dalam mempertemukan kita belahan jiwa yang terpisah selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya, hingga kita bersua dengannya pada saat dan tempat yang telah digariskan dan ditentukan-Nya.
            Jika memang kita memiliki belahan jiwa, maka diri dan tibuh kita tidaklah sempurna dan utuh jika hanya dipandang dari fisik semata, tetapi secara batin telah “cacat” hingga bertemu dengan siapa belahan jiwa itu yang menjadi pasangan jiwa kelak. Luasnya samudra, tingginya gunung, semuanya tak dapat jadi penghalang untuk mempersatukan jiwa yang “catat” hingga menjadi sempurna dan utuh sebagaimana seharusnya, bahkan tajamnya pedang tak dapat jadi penghambat bersatunya dua insan jadi satu kesatuan yang sempurna.
            Jika tulang rusuk telah bersamanya, lantas dengan jalan apa kita dapat menemukannya, bukankah tantangan manusia adalah waktu? Yang menentukan segalanya dan memberikan segalanya. Setidaknya waktulah yang memiliki andil besar dalam episode penyatuan itu. Haruskah semuanya dipasrahkan pada waktu yang telah mengeleminasi semuanya yang pernah hidup? Mengapa semuanya harus berharap pada yang seketika dapat merubah segalanya. Tidak, kita tidak pernah berhenti melawan waktu bahkan tiap detiknya, sebab indah pada waktunya adalah deretan kata yang penuh dengan kekosongan tanpa harapan dan perjuangan. Segalanmya harus diraih dengan perjuangan yang mengharuskan tumbal pengorbanan, keangkuhan pada waktu akan memotong-motong habis hingga punah layaknya lapuk termakan usia waktu.
            Begitupun pada konteks dan persoalan tentang pada apa yang urgensi disebut cinta. Jika cinta ditandai dengan rasa, maka rasa apa yang bisa menandai cinta? Bukankah rasa bagian dari cinta? Kemudian bercabang dengan kasih sayang, yang mengobarkan bara api asmara hingga yang merasakannya terbakar hangus olehnya. Aku pernah melintasi lorong waktu, berkelana di dalamnya jadi musafir, hingga pada suatu masa aku menjumpai seorang gadis, menurutku, dialah bagian dari diriku. Tetapi, pertanda cinta dengan getaran di hati tiada terasa. Kemudian aku memaksakan itu terjadi, namun apalah daya, mendung yang tak kusangka menuangkan air hujan ternyata membasahi segenap tubuh, hingga dinginnya menyelimuti diriku terlebih lagi sukmaku. Basah dalam keadaan kering, tersenyum dalam simpul kesedihan, setidaknya kamuflase berhasil menghalau kepahitan datang. Tetapi, bukankah itu bagian dari intermezo yang ditawarkan cinta? Segalanya menjadi manis, bahkan kopi pun tak terasa pahit jika sedang merasakan cinta. Apa cinta itu? Apakah gula pemanis kopi kehidupan? Ataukah sepi yang bersandiwara jadi pelengkap kesendirian? Semuanya ada pada catatan waktu, toh dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas segalanya.
            Dari musim panas, hingga musim penghujan tiba, semuanya berlalu tanpa makna. Tanpa kata cinta dan tanpa rasa cinta. Kesendirian bersahabat dengan kesedihan, pilu meranakan jiwa dan derita menjelma taji yang menusuk hingga sakitnya tak terasa sakit lagi karenanya. Semuanya terjadi bukan pada semestinya, hingga aku bersandar pada pohon yang kusebut itu pohon kehidupan terdapat pada sosok gadis berparas bidadari. Semuanya seakan cerah dan bersinar kembali. Warnya yang dulu kelabu, kini jadi memerah bak mawar sedang merekah harumnya semerbak. Segalanya aku sandarkan padanya, bahkan impian dan pengharapanku pada cinta, semuanya aku pasrahkan padanya hingga aku tak lagi memiliki nurani yang mampu menakarnya. Segalanya aku berikan, tetapi benar kata pepapatah, “selamaya pungguk hanyalah perindu bulan”.

*****



















@syam_panritalopi

Sabtu, 14 Juni 2014

Analisis

ANALISIS NOVEL DAN FILM ‘THE KITE RUNNER’ KARYA KHALED HOSSEINI
(TINJAUAN STRUKTURAL ROBERT STANTON)
OLEH:
NURSYAM

            Dalam menganalisis novel dan film ‘The Kite Runner’ karya Khaled Hosseini, menggunakan teori Struktural Robert Stanton. Robert Stanton, membagi unsur intrinsik fiksi menjadi dua bagian, yaitu fakta cerita dan sarana cerita.
            Stanton kemudian membagi unsur fakta cerita menjadi empat bagian, yakni a) alur, b) tokoh, c) latar dan d) tema, sedangkan  pada sarana cerita terdiri atas lima bagian, yakni a) judul, b) sudut pandang, c) gaya bahasa dan nada, d) simbolisme dan e) ironi.
v Fakta Cerita
            Latar, alur dan karakter merupakan fakta-fakta cerita. Unsur-unsur terebut berfungsi sebagai catatan dalam kejadian imajinatif dari sebuah cerita. apabila dirangkum menjadi satu, maka semua unsur-unsur itu disebut ‘struktur faktual’ atau ‘tingkatan faktual cerita’.
            Struktur faktual merupakan salah satu aspek cerita. Struktur faktual itu adalah cerita yang disorot dari sudut pandang (stanton, 2007: 22). Unsur-unsur yang berkaitan dengan fakta cerita adalah sebagai berikut:

a.      Alur
            Secara umum, alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007: 26).
            Alur merupakan tulang punggung cerita. Berbeda dengan elemen-elemen lain, alur dapat membuktikan dirinya sendri meskipun jarang diulas panjang lebar dalam sebuah analisis. Sebuah cerita tidak akan pernah seutuhnya dimengerti tanpa adanya pemahaman terhadap peristiwa-peristiwa yang mempertautkan alur, hubungan kausalitas, dan keberpengaruhannya. Sama halnya dengan elemen-elemen lain, alur alur memiliki hukum-hukum sendir; alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan (Stanton, 2007: 28).
            Dua elemen dasar yang membangun alur adalah ‘konflikdan klimaks. Konflik utama selalu bersifat fundamental, membenturkan sifat-sifat dan kekuatan-kekuatan tertentu. (Stanton, 2007: 32).
            Menurut Soediro Satoto (1996: 28-29) sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif. Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.
            Dalam film ‘The kite Runner’ karya Khaled Hosseini, alur yang digunakan adalah alur mundur. Film yang disutradarai oleh Marc Foster ini menggunakan alur yang sama dengan novel adaptasinya, yaitu alur mundur atau flashback. Baik film maupun novelnya, cerita dimulai ketika Amir, tokoh sentral dalam cerita ini menerima telfon dari Rahim Khan, sahabat ayahnya yang tinggal di Afganistan. Dari situlah awal cerita selanjutnya dimulai dengan mengenang masa kecil Amir bersama sahabat setianya Hassan, hingga terjadi konflik awal ketika Hassan mengambilkan layang-layang untuk Amir, namun Hassan disodomi oleh musuh mereka yang selalu mengejaknya, puncak konflik ketika mereka terpisah yang dikarenakan oleh ulah Amir yang berusaha memfitnah Hassan, klimaks dan penyelesaiannya ketika Amir tahu bahwa Hassan meninggal dan ia memiliki anak, Amir kemudian berusaha mencari anak itu sebagai tebusan dosanya pada Hassan.
            Tidak berbeda jauh dengan filmnya, novel ‘The Kite Runner’ juga memiliki rohnya sendiri. Pada novelnya, diceritakan secara terperinci mengenai bagian kisah ketika Amir masih masih anak-anak. Hal ini membuat bagian alur pada novelnya lebih spesifik dan lebih banyak. Dalam novel konfliknya lebih banyak terjadi dibanding pada filmnya, tetapi tidak mengurangi essensi dari isi novelnya.
            Dalam novel, intuisi pembaca seolah-olah diajak melihat langsung peristiwa dengan pendeskripsian sejumlah peristiwa yang memicu timbulnya konflik. Hal inilah yang menjadikan nilai lebih pada novel dibanding dengan filmnya. Alur mundur memang membutuhkan penghayatan dan pemahaman yang baik untuk memahami rangakaian cerita secara koherensi.
b.      Tokoh
            Tokoh atau biasa disebut “karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada berbagai percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu tersebut. Dalam sebagian besar cerita dapat ditemukan satu “tokoh utama yaitu tokoh yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Alasan seorang tokoh untuk bertindak sebagaimana yang dilakukan disebut “motivasi (Stanton, 2007: 33).
            Pada novel dan film “The Kite Runner”, tokoh utamanya tetap sama, yakni Amir. Hanya saja beberapa tokoh pembantu dalam novel “The kite Runner”, tidak dikutsertakan dalam film. Pertimbangannya, karena tokoh pembantu ini kurang memiliki peran yang mendukung cerita secara khusus, sehingga tidak dimasukkan. Contohnya pada novel diceritakan ibu Hassan, tetapi pada filmnya dihilangkan.
            Hal yang menarik pada novel dan filmnya, masing-masing tokoh memilki karakter yang berbeda-beda. Karakter Hassan yang penurut dan pandai membaca arah angin dan selalu berusaha belajar menulis serta rajin berinadah, memperlihatkan perbedaan pada sisi karakter Amir yang selalu bersikap jail kepada Hassan. Kemudian pada sisi penggambaran karakter tokoh lainnya, tidak terlalu di deskripsikan secara umum pada novel dan filmnya, sebab ada tokoh yang terdapat di dalam novel namun tidak dimunculkan pada filmnya, seperti guru mengaji Amir.
            Penulis hanya menggambarkan karakter tokoh Amir dan Hassan, karena kedua tokoh itu menjadi landasan utama di dalam jalinan setiap ceritanya, sehingga keduaya menjadi pokok utama dalam penceritaan, walaupun yang menjadi tokoh utama adalah Amir.
            Kelebihan pada novel dan film ini terletak pada kemampuan penulis memainkan karakter tokoh. Penulis mampu menganalogikan antara tokoh pada drama dengan realitas. Dalam drama ini, tokoh-tokoh yang ada mewakili realitas orang-orang yang ada pada masa tersebut. Penulis juga sangat teliti dalam membuat karakter sebuah tokoh. Semuanya telah diperhitungkan. Tokoh-tokoh berdasarkan karakternya semua lengkap dalam drama ini.
            Hanya saja, sedikit perbedaan antara novel dan film, hanya pada bagian pencitraan tokohnya. Dalam novel, karakter tokoh tergambar dengan sangat rinci, sedangkan pada film, karakter tokoh tidak terlalu lengkap dan juga pada novel penggambaran tokoh Hassan misalnya, berbeda dengan penggambaran pada filmnya. Bibir Hasan seharusnya sumbing, namun pada filmnya tidak demikian, dan begitu juga dengan tokoh pembantu yang ada pada novel tersebut.
c.       Latar
            Latar adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Latar dapat berwujud dekor. Latar juga dapat berwujud waktu-waktu tertentu. Latar terkadang berpengaruh pada karakter-karakter. Latar juga terkadang menjadi contoh representasi tema. Dalam berbagai cerita dapat dilihat bahwa latar memiliki daya untuk memunculkan tone dan mode emosional yang melingkupi sang karakter. Tone emosional ini disebut dengan istilah “atmosfer. Atmosfer bisa jadi merupakan cermin yang merefleksikan suasana jiwa sang karakter (Stanton, 2007: 35-36).
            Saat harus mengkonfersi sebuah novel ke dalam film, latar merupakan hal yang selalu menjadi masalah terbesar. Pesoalannya adalah betapa sulitnya memvisualkan gambaran yang ada pada novel dengan realitasnya. Seperti mencari tempat yang ada dalam benak penulis pada novel dengan tempat yang sebenarnya. Sehingga, pada pembuatan latar, sutradara film dituntut sekreatif mungkin agar dapat memberikan tempat yang sesuai dengan novelnya.
            Pada film “The Kite Runner” yang disutradarai oleh Marc Foster, ada beberapa latar yang berbeda dengan novelnya. Contohnya, pada penggambaran rumah Amir, di dalam novel dirincikan bahwa rumah Amir adalah rumah yang paling tercantik dan termewah di bagian utara kota Kabul, dengan hisan mawar-mawar yang indah, dan juga pada latar tempat Amir dan Hasan bermain tidak sesuai dengan penggambaran pada novelnya.
            Namun secara umum, latar yang tergambar pada filmnya telah menggambarkan apa yang tergambar pada novelnya, walaupun tidak sama persis tetapi identik atau mendekati kesamaan.
d.      Tema
            Tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna dalam pengalaman manusia; sesuatu yang menjadikan suatu pengalaman begitu diingat (Stanton, 2007: 36). Tema membuat cerita lebih terfokus, menyatu, mengerucut, dan berdampak. Bagian awal dan akhir akan menjadi pas, sesuai, dan memuaskan berkat keberadaan tema (Stanton, 2007: 37).
Tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.       Interpretasi yang baik hendaknya selalu menpertimbangkan secara detail hal yang menonjol dalam sebuah cerita. tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi, tidak sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya secara implisit), dan
b.      Interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan (Stanton, 2007: 44-45).
            Pada aspek tema, tidak ada perbedaan ataupun perbandingan yang sangat mencolok pada novel dan filmnya secara keseluruhan. Adapun temanya adalah:
a)      tentang persahabatan dan kesetiaan, dan
b)      penebusan dosa di masa lalu.


Penjelasan.
a)      Amir dan Hasan adalah dua orang yang bersahabat sejak kecil, apapun yang diperintahkan oleh Amir, Hasan selalu mengerjakannya dengan senang hati, demikian pula ketika Hasan meminta Amir untuk membacakan sebuah cerita maka Amir akan melakukannya.
b)      Akibat dari konflik masa lalu, Amir ingin menebus dosanya kepada Hasan dengan berusaha mencari dan menyelamatkan putra Hasan yang menjadi tahanan di Afganistan.

v  Sarana Cerita
            Sarana-sarana sastra dapat diartikan sebagai metode (pengarang) memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode semacam ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi (Stanton, 2007: 46 47).
a.      Judul
            Judul berhubungan dengan cerita secara keseluruhan karena menunjukkan karakter, latar, dan tema. Judul merupakan kunci pada makna cerita. Sering kali judul dari karya sastra mempunyai tingkatan-tingkatan makna yang terkandung dalam cerita. Judul juga dapat berisi sindiran terhadap kondisi yang ingin dikritisi oleh pengarang atau merupakan kesimpulan terhadap kedaan yang sebenarnya dalam cerita (Stanton, 1965: 25-26)
            Judul yang digunakan dalam film ini sama dengan judul novelnya, yaitu “The Kite Runner”. Judul ini dipilih penulis karena menggambarkan keseluruhan dari cerita. Dalam novel, diceritakan hobi Amir yang senag bermain layang-layang dengan Hasan semasa mereka kecil. Judul ini juga bermakna filosofis, bahwa layang-layang merupakan penggambaran bahwa betapa pun jauh dan tingginya, benang akan selalu mengikat layang-layang itu. Demikian pula persahabatan, semakin tinggi rasa persabahatan maka tidak ada hal yang dapat membantah kesetiaan.
            Namun, bagaimana pun kuatnya benang yang mengikat layang-layang itu, tetap akan putus dengan hembusan angin yang keras, seperti juga tali persahabatan, walau demikian layang-layang dan benang tak dapat dipisahkan, seperti halnya rasa persahabatan itu walau secara keadaan terputus namun secara rasa tak akan pernah. Itulah yang diperlihatkan oleh Amir dalam menyelamatkan anak Hasan.
b.      Sudut Pandang
            Stanton dalam bukunya membagi sudut pandang menjadi empat tipe utama. Pertama, pada “orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Kedua, pada “orang pertama-sampingan cerita dituturkan oleh satu karakter bukan utama (sampingan). Ketiga, pada orang ketiga-terbatas pengarang mengacu pada semua karakter dan emosinya sebagai orang ketiga tetapi hanya menggambarkan apa yang dilihat, didengar, dan dipikirkan oleh satu karakter saja. Keempat, pada orang ketiga-tidak terbatas pengarang mengacu pada setiap karakter dan memposisikannya sebagai orang ketiga. Pengarang juga dapat membuat beberapa karakter melihat, mendengar, atau perpikir atau saat tidak ada satu karakter pun hadir.
            Pada novel “The Kite Runner” ini penulis menggunakan sudut pandang “orang pertama-utama sang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri. Artinya, penulis sepenuhnya mengetahui tentang semua seluk beluk dalam novel ini dan secara emosional. Perbedaannya, pada novel sudut pandang yang digunakan merupakan representasi dari imajinasi Khaled Hosseini sebagai penulis. Sedangkan pada film, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang dari Marc Foster sebagai sutradara.
c.       Gaya dan Tone
            Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton, 2007: 61).
            Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah “toneTone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007: 63). Tone pada cerita ini sangat terlihat pada karakter semua tokoh dalam novel ini. Semua tokoh memainkan karakternya masing-masing mewakili realitas yang ada. Hal ini membuat keseimbangan pada cerita.
            Semua tokoh yang terdapat di dalam novel memilki rincian yang berbeda-beda yang mewakiliki karakternya, seperti yang dideskripsikan pada bagian fakta cerita, yaitu tokoh atau karakter. Walaupun ciri fisik tokoh di dalam novel berbeda di dalam film, tetapi hal demikian tidak mengurangi esensi karakter tokohnya secara umum. Contohnya, ayah digambarkan berbadan besar, tinggi, berjanggut lebat tapi dengan karakternya tetap sama, yaitu pemberani dan penuh perasaan.
d.      Simbolisme
            Dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan. Pertama, sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita menunjukkan makna peristiwa tersebut. Dua, simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita. Tiga, sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu kita menemukan tema (Stanton, 2007:65).
Salah satu bentuk simbol yang khas adalah „momen simbolis. Istilah ini dapat disamaan dengan “momen kunci atau “momen pencerahan (dua istilah ini sering dipakai oleh para kritisi). Momen simbolis, momen kunci, atau momem pencerahan adalah tabula tempat seluruh detail yang terlihat dan hubungan fisis mereka dibebani oleh makna (Stanton, 2007: 68).
            Adapun simbol yang menarik perhatian dalam novel dan film ini, adalah bentuk tulisan Amir yang menuliskan namanya dengan nama Hassan di batang pohon dengan bentuk tulisan yang bersambung secara vertikal. Hal  ini kemudian memberikan bentuk strata sosial antara Amir dengan Hassan.
e.       Ironi
            Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya. Ironi dapat ditemukan dalam hampir semua cerita (terutama yang dikategorikan “bagus). Dalam dunia fiksi, ada dua jenis ironi yang dikenal luas yaitu “ironi dramatis dan “tone ironis (Stanton, 2007: 71).
            “Ironi dramatis atau ironi alur dan situasi biasanya muncul melalui kontras diametris antara penampilan dan realitas, antara maksud dan tujuan seorang karakter dan hasilnya, atau antara harapan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Pasangan elemen-elemen di atas terhubung satu sama lain secara logis (biasanya melalui hubungan kausal atau sebab-akibat) (Stanton, 2007: 71). “Tone ironis atau “ironis verbal digunakan untuk menyebut cara berekspresi yang mengungkapkan makna dngan cara berkebalikan (Stanton, 2007: 72).
            Berbicara mengenai ironi, novel ini sangat baik. Diantara eleman-eleman lainnya, kekutaan novel dan film ini terletak pada Ironi yang berhasil dimainkan penulisnya dan sutradaranya. Ada banyak ironi pada novel dan film ini yang bisa dinikmati oleh pembaca dan penonton. Ironi yang terbaik adalah bagaimana kemampuan seseorang untuk menutupi perasaan sedihnya ketika melihat orang yang dikasihi dianiaya oleh orang lain. Hal ini tampak pada tokoh Amir, yang lebih memilih untuk tidak menolong Hasan ketika disodomi oleh musuhnya, dia lebih memilih acuh dan pergi seolah-olah tidak tahu apa-apa.

Sinopsis
            Film The kite Runner merupakan Film yang diadaptasi dari sebuah novel yang memiliki judul yang sama yang dikarang oleh Khaled Hoseni. Film The Kite Runner disutradarai oleh sutradara kawakan dan terkenal, yaitu Marc Poster. Pada tahun 2008, Film The Kite Runner mendapatkan penghargaan sebagai Film Asing Terbaik di ajang Piala Oscar. Film The Kite Runner mengisahkan tentang dua sahabat karib yang bernama Amir dan Hassan. Amir merupakan seorang anak keturunan Ras Pashtun (ras terhormat di Afghanistan pada saat itu), ayahnya bernama Agha Sahib, seorang duda yang kaya raya. Sedangkan Hassan hanyalah anak seorang pelayan. Ayah Hassan bernama Ali dan ia merupakan pelayan di rumahAgha Sahib. Hassan merupakan anak keturunan Ras Hazara.
            Amir dan Hassan tinggal di Kabul Afghanistan, dan pada saat itu merupakan era pertempuran antara Taliban dengan Rusia. Amir dan Hassan selalu bermain bersama. Di tempat mereka tinggal, ada seorang anak yang bernama Assef yang memiliki kelainan seksual dan suka menganiaya anak laki-laki bersama geng brutalnya. Pada suatu hari, Assef ingin mencelakai Amir. Namun Hassan menyelamatkan Amir dengan gagah berani. Ia menembakkan ketapel ke mata Assef. Assef meraung kesakitan dan berjanji akan membalas perbuatan itu. Hassan setia mengikuti kemanapun Amir pergi, bahkan ia juga selalu berusaha melindungi Amir dari serangan Assef. Pada saat ulang tahun Hassan, Amir menghadiahi sebuah layang-layang kepada Hassan. Hassan sangat senang sekali menerima hadiah itu dan ia juga berjanji untuk mengajari Amir bermain layang-layang.
            Amir tidak bisa bermain layang-layang dan Hassan adalah seorang pemain layangan yang hebat. Berkat pengajaran dari Hassan, Amir dapat memainkan layang-layang dengan sangat baik. Bahkan pada saat ada pertandingan lokal bermain layang-layang, Amir berhasil memenangkannya. Pada saat Hassan pergi mengambil layang-layang Amir yang terjatuh di suatu tempat, Assef mengikutinya dan berhasil mendapatkan Hassan yang tengah sendirian berada di tempat yang sepi. Pada saat itulah, Assef melakukan tindak kekerasan seksual kepada Hassan. Sebenarnya pada saat kejadian itu, Amir melihatnya. Namun ia memutuskan untuk melarikan diri dan tidak menolong sahabatnya, Hassan, yang telah rela melakukan apapun demi dia.
            Semenjak kejadian itu, Amir menjauh dari Hassan dan berbuat apa saja untuk membuat Hassan bisa pergi jauh dari dirinya. Pada saat itulah Amir memfitnah Hassan telah mencuri jam tangannya. Akibat peristiwa itu, Ali, ayah Hassan memutuskan untuk tidak bekerja lagi untuk keluarga Agha Sahib. Beberapa Tahun kemudian, terjadi invansi besar-besaran oleh Rusia, yang membuat Agha Sahib dan Amir harus mengungsi ke Amerika. Di Amerika, Amir mmenyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang penulis novel. Amir kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Soraya, yang merupakan seorang puteri Jenderal yang bernama Taheri.
            Kemudian, setelah meninggalnya Agha Sahib, ayah Amir, tiba-tiba Amir mendapatkan sebuah surat dari Rahim Khan, yang merupakan rekan kerja dan teman baik ayahnya. Rahim Khan menyuruh Amir untuk pergi ke Pakistan untuk menemui dirinya. Setelah tiba di Pakistan, Rahim Khan menceritakan segala hal kepada Amir. Rahim Khan memberitahu Amir bahwa Hassan sebenarnya adalah saudara tirinya. Saat itulah Amir ingin bertemu kembali dengan Hassan. Namun Hassan telah meninggal bersama istrinya, Farzana. Mereka dibunuh oleh Kelompok Taliban. Namun, anak Hasan masih hidup dan sekarang berada di Afghanistan, di bawah kekuasaan Assef yang sekarang menjadi eksekutor Taliban.
            Amir berniat untuk kembali ke Afghanistan untuk menolong anak Hassan yang bernama Sohrab. Dengan segala cara dan mengeluarkan segenap keberaniaanya saat menghadapi Assef, Amir berhasil membebaskan Sohrab dan membawanya ke Amerika. Ia mengangkat Sohrab sebagai anaknya dan berusaha memenuhi setiap keinginannya, untuk membalas kebaikan temannya, yang tak lain adalah ayah Sohrab, di masa lalu.

REFERENSI
              Hosseini, Khaled. 2003. The Kite Runner. USA: The Berkley Publishing Group.
             Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa .1993. Kamus Besar Bahasa Indoneisa edisi kedua. Jakarta: Balai Pustaka.
              Suguhastuti dan Rosi Abi. 2007. Teori Fiksi Robert Stanton. Jogjakarta: Pustaka Pelajar