Jika air sungai terus mengalir dari
hulu hingga ke muara, airnya akan tetap mengikuti jalur dan arus, walau tak tahu
pasti kapan akan berhenti pada muara yang membuatnya tenang dan menyatu dengan
genangan air yang lainnya. Begitupula dengan rasa cinta. Cinta selalu membuat
yang mustahil jadi nyata, meski berusaha mengingkarinya, tetapi cinta tidak
pernah salah dalam menentukan pilihan. Kedatangannya begitu tiba-tiba dan
misterius, tiada yang dapat merencanakan akan kehadirannya dan kepada siapa ia
akan bersua. Getaran jantung buat dada bergetar, hati gelisah tak karuan hingga
pikiran pun tak tenang, melayang-layang, menandakan seseorang itulah dilanda
kasmaran yang ditimbulkan oleh kehadiran cinta.
Problematika tentang cinta tak
pernah lapuk oleh masa dan tak akan lekang oleh zaman, sebab keberadaannya
telah menandai terciptanya makhluk yang bernama Adam. Bukankah Adam tercipta
dari cinta sang Ilahi. Seringkali kita mendengar legenda tentang cinta manusia
pertama, tentang Adam yang mencintai Hawa, yang konon katanya tercipta dari
bagian dirinya. Adam adalah lambang dari kebesaran dan keperkasaan para lelaki
hingga masa kini, dan Hawa, bukankah ia adalah bagian yang terpenting dari
lelaki itu sendiri yang selalu disematkan pada kaum perempuan.
Betapa fenomena cinta telah mewarnai
dunia dengan segala warnanya. Dari Adam dan Hawa hingga kini pada manusia akhir
zaman selalu membicarakan tentang cinta. Ada apa dengan cinta? Jawabannya
selalu berada pada seseorang yang pernah merasakannya, baik itu sesaat maupun
selamanya dalam hidupnya. Cinta banyak golongannya, tetapi cinta yang
sanantiasa membawa kemudaratan adalah cinta yang dikamuflase oleh nafsu.
Mencintai adalah hak setiap manusia, dan dicintai adalah anugerah yang
seharusnya disyukuri.
Entah cinta ataupun nafsu,
pertandanya hanyalah kekosongan belaka, toh semuanya dikendalikan oleh pikiran
yang pada akhirnya membawa pengaruh pada nurani. Menurut kisah, Hawa tercipta
dari tulang rusuk Adam, hingga mereka bersatu menjadi satu bagian yang utuh dan
sempurna. Bukankah cinta pun demikian? Pasangan jiwa telah ditakdirkan-Nya,
sebelum kita menatap dunia dengan segala keindahan dan kesenangan yang
ditawarkannya sewaktu malaikat roh meniupkan kehidupan pada jasad kita, ketika
keluar dari kandungan sang ibu. Seiring dengan itu, waktu berganti dan bumi
terus berputar hingga penantian waktu dimana hari tiba, kita akan dipertemuakan
oleh sosok yang menggetarkan jiwa dan hati yang kemudian kita menyebutnya itu
cinta.
Lantas, siapakah yang menjadi
penuntun kita dalam menemukan sosok itu? Apakah jodoh akan melakukannya? Semua
tanya yang tiada menuai jawab, akan berakhir pada kalimat kepasrahan,
mengembalikan semuanya kepada-Nya, dan berserah diri, termasuk persoalan cinta
dan memilih serta menentukan cinta kepada siapa ia akan berjodoh. Bukankah
jodoh ada ditangan masing-masing setiap insan yang merupakan anugerah dan
karunai dari-Nya. Segalanya tak akan pernah terpisah dari kehendak-Nya.
Bukankah setiap manusia harus mengimani yang tak kasat mata? Jika kita memegang
jodoh itu sendiri, maka percayalah, jalan Tuhan akan memberikan cahayanya dalam
mempertemukan kita belahan jiwa yang terpisah selama belasan bahkan puluhan
tahun lamanya, hingga kita bersua dengannya pada saat dan tempat yang telah
digariskan dan ditentukan-Nya.
Jika memang kita memiliki belahan
jiwa, maka diri dan tibuh kita tidaklah sempurna dan utuh jika hanya dipandang
dari fisik semata, tetapi secara batin telah “cacat” hingga bertemu dengan
siapa belahan jiwa itu yang menjadi pasangan jiwa kelak. Luasnya samudra,
tingginya gunung, semuanya tak dapat jadi penghalang untuk mempersatukan jiwa
yang “catat” hingga menjadi sempurna dan utuh sebagaimana seharusnya, bahkan
tajamnya pedang tak dapat jadi penghambat bersatunya dua insan jadi satu
kesatuan yang sempurna.
Jika tulang rusuk telah bersamanya,
lantas dengan jalan apa kita dapat menemukannya, bukankah tantangan manusia
adalah waktu? Yang menentukan segalanya dan memberikan segalanya. Setidaknya
waktulah yang memiliki andil besar dalam episode penyatuan itu. Haruskah
semuanya dipasrahkan pada waktu yang telah mengeleminasi semuanya yang pernah
hidup? Mengapa semuanya harus berharap pada yang seketika dapat merubah
segalanya. Tidak, kita tidak pernah berhenti melawan waktu bahkan tiap
detiknya, sebab indah pada waktunya adalah deretan kata yang penuh dengan
kekosongan tanpa harapan dan perjuangan. Segalanmya harus diraih dengan
perjuangan yang mengharuskan tumbal pengorbanan, keangkuhan pada waktu akan
memotong-motong habis hingga punah layaknya lapuk termakan usia waktu.
Begitupun pada konteks dan persoalan
tentang pada apa yang urgensi disebut cinta.
Jika cinta ditandai dengan rasa, maka rasa apa yang bisa menandai cinta?
Bukankah rasa bagian dari cinta? Kemudian bercabang dengan kasih sayang, yang
mengobarkan bara api asmara hingga yang merasakannya terbakar hangus olehnya. Aku
pernah melintasi lorong waktu, berkelana di dalamnya jadi musafir, hingga pada
suatu masa aku menjumpai seorang gadis, menurutku, dialah bagian dari diriku.
Tetapi, pertanda cinta dengan getaran
di hati tiada terasa. Kemudian aku memaksakan itu terjadi, namun apalah daya,
mendung yang tak kusangka menuangkan air hujan ternyata membasahi segenap
tubuh, hingga dinginnya menyelimuti diriku terlebih lagi sukmaku. Basah dalam
keadaan kering, tersenyum dalam simpul kesedihan, setidaknya kamuflase berhasil
menghalau kepahitan datang. Tetapi, bukankah itu bagian dari intermezo yang
ditawarkan cinta? Segalanya menjadi manis, bahkan kopi pun tak terasa pahit
jika sedang merasakan cinta. Apa cinta itu? Apakah gula pemanis kopi kehidupan?
Ataukah sepi yang bersandiwara jadi pelengkap kesendirian? Semuanya ada pada
catatan waktu, toh dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas segalanya.
Dari musim panas, hingga musim
penghujan tiba, semuanya berlalu tanpa makna. Tanpa kata cinta dan tanpa rasa
cinta. Kesendirian bersahabat dengan kesedihan, pilu meranakan jiwa dan derita
menjelma taji yang menusuk hingga sakitnya tak terasa sakit lagi karenanya.
Semuanya terjadi bukan pada semestinya, hingga aku bersandar pada pohon yang
kusebut itu pohon kehidupan terdapat pada sosok gadis berparas bidadari.
Semuanya seakan cerah dan bersinar kembali. Warnya yang dulu kelabu, kini jadi
memerah bak mawar sedang merekah harumnya semerbak. Segalanya aku sandarkan
padanya, bahkan impian dan pengharapanku pada cinta, semuanya aku pasrahkan
padanya hingga aku tak lagi memiliki nurani yang mampu menakarnya. Segalanya
aku berikan, tetapi benar kata pepapatah, “selamaya pungguk hanyalah perindu
bulan”.
*****
@syam_panritalopi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar