Minggu, 08 November 2015

 Essai Cinta

            Jika air sungai terus mengalir dari hulu hingga ke muara, airnya akan tetap mengikuti jalur dan arus, walau tak tahu pasti kapan akan berhenti pada muara yang membuatnya tenang dan menyatu dengan genangan air yang lainnya. Begitupula dengan rasa cinta. Cinta selalu membuat yang mustahil jadi nyata, meski berusaha mengingkarinya, tetapi cinta tidak pernah salah dalam menentukan pilihan. Kedatangannya begitu tiba-tiba dan misterius, tiada yang dapat merencanakan akan kehadirannya dan kepada siapa ia akan bersua. Getaran jantung buat dada bergetar, hati gelisah tak karuan hingga pikiran pun tak tenang, melayang-layang, menandakan seseorang itulah dilanda kasmaran yang ditimbulkan oleh kehadiran cinta.
            Problematika tentang cinta tak pernah lapuk oleh masa dan tak akan lekang oleh zaman, sebab keberadaannya telah menandai terciptanya makhluk yang bernama Adam. Bukankah Adam tercipta dari cinta sang Ilahi. Seringkali kita mendengar legenda tentang cinta manusia pertama, tentang Adam yang mencintai Hawa, yang konon katanya tercipta dari bagian dirinya. Adam adalah lambang dari kebesaran dan keperkasaan para lelaki hingga masa kini, dan Hawa, bukankah ia adalah bagian yang terpenting dari lelaki itu sendiri yang selalu disematkan pada kaum perempuan.
            Betapa fenomena cinta telah mewarnai dunia dengan segala warnanya. Dari Adam dan Hawa hingga kini pada manusia akhir zaman selalu membicarakan tentang cinta. Ada apa dengan cinta? Jawabannya selalu berada pada seseorang yang pernah merasakannya, baik itu sesaat maupun selamanya dalam hidupnya. Cinta banyak golongannya, tetapi cinta yang sanantiasa membawa kemudaratan adalah cinta yang dikamuflase oleh nafsu. Mencintai adalah hak setiap manusia, dan dicintai adalah anugerah yang seharusnya disyukuri.
            Entah cinta ataupun nafsu, pertandanya hanyalah kekosongan belaka, toh semuanya dikendalikan oleh pikiran yang pada akhirnya membawa pengaruh pada nurani. Menurut kisah, Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, hingga mereka bersatu menjadi satu bagian yang utuh dan sempurna. Bukankah cinta pun demikian? Pasangan jiwa telah ditakdirkan-Nya, sebelum kita menatap dunia dengan segala keindahan dan kesenangan yang ditawarkannya sewaktu malaikat roh meniupkan kehidupan pada jasad kita, ketika keluar dari kandungan sang ibu. Seiring dengan itu, waktu berganti dan bumi terus berputar hingga penantian waktu dimana hari tiba, kita akan dipertemuakan oleh sosok yang menggetarkan jiwa dan hati yang kemudian kita menyebutnya itu cinta.
            Lantas, siapakah yang menjadi penuntun kita dalam menemukan sosok itu? Apakah jodoh akan melakukannya? Semua tanya yang tiada menuai jawab, akan berakhir pada kalimat kepasrahan, mengembalikan semuanya kepada-Nya, dan berserah diri, termasuk persoalan cinta dan memilih serta menentukan cinta kepada siapa ia akan berjodoh. Bukankah jodoh ada ditangan masing-masing setiap insan yang merupakan anugerah dan karunai dari-Nya. Segalanya tak akan pernah terpisah dari kehendak-Nya. Bukankah setiap manusia harus mengimani yang tak kasat mata? Jika kita memegang jodoh itu sendiri, maka percayalah, jalan Tuhan akan memberikan cahayanya dalam mempertemukan kita belahan jiwa yang terpisah selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya, hingga kita bersua dengannya pada saat dan tempat yang telah digariskan dan ditentukan-Nya.
            Jika memang kita memiliki belahan jiwa, maka diri dan tibuh kita tidaklah sempurna dan utuh jika hanya dipandang dari fisik semata, tetapi secara batin telah “cacat” hingga bertemu dengan siapa belahan jiwa itu yang menjadi pasangan jiwa kelak. Luasnya samudra, tingginya gunung, semuanya tak dapat jadi penghalang untuk mempersatukan jiwa yang “catat” hingga menjadi sempurna dan utuh sebagaimana seharusnya, bahkan tajamnya pedang tak dapat jadi penghambat bersatunya dua insan jadi satu kesatuan yang sempurna.
            Jika tulang rusuk telah bersamanya, lantas dengan jalan apa kita dapat menemukannya, bukankah tantangan manusia adalah waktu? Yang menentukan segalanya dan memberikan segalanya. Setidaknya waktulah yang memiliki andil besar dalam episode penyatuan itu. Haruskah semuanya dipasrahkan pada waktu yang telah mengeleminasi semuanya yang pernah hidup? Mengapa semuanya harus berharap pada yang seketika dapat merubah segalanya. Tidak, kita tidak pernah berhenti melawan waktu bahkan tiap detiknya, sebab indah pada waktunya adalah deretan kata yang penuh dengan kekosongan tanpa harapan dan perjuangan. Segalanmya harus diraih dengan perjuangan yang mengharuskan tumbal pengorbanan, keangkuhan pada waktu akan memotong-motong habis hingga punah layaknya lapuk termakan usia waktu.
            Begitupun pada konteks dan persoalan tentang pada apa yang urgensi disebut cinta. Jika cinta ditandai dengan rasa, maka rasa apa yang bisa menandai cinta? Bukankah rasa bagian dari cinta? Kemudian bercabang dengan kasih sayang, yang mengobarkan bara api asmara hingga yang merasakannya terbakar hangus olehnya. Aku pernah melintasi lorong waktu, berkelana di dalamnya jadi musafir, hingga pada suatu masa aku menjumpai seorang gadis, menurutku, dialah bagian dari diriku. Tetapi, pertanda cinta dengan getaran di hati tiada terasa. Kemudian aku memaksakan itu terjadi, namun apalah daya, mendung yang tak kusangka menuangkan air hujan ternyata membasahi segenap tubuh, hingga dinginnya menyelimuti diriku terlebih lagi sukmaku. Basah dalam keadaan kering, tersenyum dalam simpul kesedihan, setidaknya kamuflase berhasil menghalau kepahitan datang. Tetapi, bukankah itu bagian dari intermezo yang ditawarkan cinta? Segalanya menjadi manis, bahkan kopi pun tak terasa pahit jika sedang merasakan cinta. Apa cinta itu? Apakah gula pemanis kopi kehidupan? Ataukah sepi yang bersandiwara jadi pelengkap kesendirian? Semuanya ada pada catatan waktu, toh dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas segalanya.
            Dari musim panas, hingga musim penghujan tiba, semuanya berlalu tanpa makna. Tanpa kata cinta dan tanpa rasa cinta. Kesendirian bersahabat dengan kesedihan, pilu meranakan jiwa dan derita menjelma taji yang menusuk hingga sakitnya tak terasa sakit lagi karenanya. Semuanya terjadi bukan pada semestinya, hingga aku bersandar pada pohon yang kusebut itu pohon kehidupan terdapat pada sosok gadis berparas bidadari. Semuanya seakan cerah dan bersinar kembali. Warnya yang dulu kelabu, kini jadi memerah bak mawar sedang merekah harumnya semerbak. Segalanya aku sandarkan padanya, bahkan impian dan pengharapanku pada cinta, semuanya aku pasrahkan padanya hingga aku tak lagi memiliki nurani yang mampu menakarnya. Segalanya aku berikan, tetapi benar kata pepapatah, “selamaya pungguk hanyalah perindu bulan”.

*****



















@syam_panritalopi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar