Narasi
Kepergianmu
Tanggal 5 Juli adalah hari yang
paling kamu nantikan. Hampir sepanjang waktu sebelum tanggal itu tiba, kamu
selalu mengatakan akan pergi, meski aku selalu memarahimu karena kata “pergi”.
Kata itu selalu kamu ucapkan tanpa memperdulikan perasaanku yang selalu
kuwakilkan di balik senyum kecut yang tersimpul dihadapanmu, ketika kamu
ucapkan kembali kata itu.
Entah dengan cara apa, aku harus menyampaikan
kekesalanku dengan sikapmu yang seolah-olah tak perduli dengan “perpisahan”
yang akan membatasi perjumpaan kita. Detik demi detik, jam ke jam, hari ke
hari, minggu ke minggu, bahkan bulan ke bulan tak pernah aku bayangkan jika aku
melalui itu semua tanpa sosok kehadiranmu di sisiku sebagai pendamping
menghadapi waktu.
Hari-hariku bermakna dan penuh
dengan pelangi keceriaan, kini tak lagi seindah sebelumnya. Matahari seakan
enggan menampakkan sinarnya dari ufuk timur, karena tertutup kabut awan kelabu
yang sepertinya akan meneteskan gerimis. Aku hadapi hari yang cukup panjang
bersama kesepian di menemaniku. Malam yang ku nantikan dengan berharap sang
ratu malam dapat berbagi kebahagiaan dengan cahayanya penerang malam kelam dan
sunyi, tetapi kenyataannya dia juga bersembunyi di balik gelapnya langit,
tertutup gulita pemguasa malam.
Malam sebelum keberangkatanmu
kembali pada tanah kelahiranmu, mataku enggan tertutup, mulut terjangkit bisu, tampaknya
pikiranku penyebab semua itu. Aku lewati malam yang panjang, tanpa pernah
terjaga dari tidurku. Entah apa yang aku rasakan malam itu. Semuanya terasa
berbeda padahal keadaannya masih sama. Dadaku mendadak sesak dan keringat
mengucur dari dasar mataku. Aku meninggalkanmu malam itu, malam sebelum
keberangkatanmu kembali pada tanah kecintaanmu yang jauh di seberang pulau, bahkan dalam pikiranku tak pernah terjamah
bentuk dan suasananya. Aku termenung kaku, menjelajah dalam maya pikiran,
mengapa tingkahku tak seperti biasanya. Kebisingan di sekitarku terasa hanyalah
nada penumbuh sedih kemudian subur menjadi duka dalam deritaku.
Dua tahun lima bulan kurang lama
belas hari, kita telah terikat dengan ikatan abstrak, yang selalu ku sebut itu cinta. Cinta yang melenakanku dalam
setiap gulir waktu. Cinta yang membuatku selalu menyangjungku, mengasihimu
bahkan menyayangi lebih dari aku menyaynagi diriku sendiri. Tetapi, tiba pada
saat itu, malam sebelum keberangkatanmu, cinta yang aku puja selama itu, seakan
luntur bagai tak berwarna lagi, bahkan kelabu tak lagi terlihat di sana.
Semuanya seakan menjauhi dan meninggalkanku dalam keterpurukan dan kesendirian.
Malam itu kita bertengkar kecil. Aku
meninggalkanmu sendiri walau aku tahu kamu membutuhkanku saat-saat waktu
keberangkatanmu tiba. Tapi bukankah aku meninggalkanmu dalam keadaan baik-baik
saja tanpa ada persoalan di antara kita? Aku pergi dengan berpamit seperti
biasanya, kamu mencium tangan kanganku dan berucap salam. Tapi aku masih belum
paham, mengapa semua itu terasa berbeda bagimu?
Aku akui, aku telah bersalah tak
menghiraukan perasaanmu malam itu. Aku tahu betul kalau kamu sangat butuh
diriku untuk melepasakan dahaga kerinduamu dengan berharap aku bisa jadi air penawar
malam itu. Tapi, aku tak ingin memberimu dosa. Jangankan dosa, menyakitimu saja
tak pernah terlintas dalam benakku untuk melakukan itu, sebab cinta yang
bermuara pada hatiku, telah aku serahkan padamu sebagai wujud kasih sayangku
dalam ikatan cinta ikatan abstrak
itu.
Malam
menghampiri fajar. Mentari bersiap menggeser kedudukan sang ratu malam, aku
semakin tak karuan bertingkah. Mungkin karena perpisahan ini akan berbeda.
“Besok ndak usah datang jemput, aku
akan pakai mobil sewa saja. Oke!! Ketemunya nanti kalo aku udah balik lagi ke Makassar”.
Kalimat yang masuk di kotak pesanku, sebelum aku sempat berangkat ke tempatmu, sungguh
itu menyayat sanubariku yang masih kalut dan merana. Tidakkah kamu sadari jika
pesan yang kamu kirim itu adalah belatih yang menghujam tepat di posisi jantungku
berada, hingga seluruh anggota badanku tak dapat aku gerakkan. Semuanya terasa
kaku dan mati.
Sebelum
pesan itu sempat aku kirim balasannya, pesanmu yang kedua masuk dengan nada
bisu di ponselku.
“Maafkan jika aku terlalu egois,
tapi inilah aku”.
Kalimat itu tersimpul sirat maksud,
bahwa kata egois itu sebenarnya
tertuju padaku. Aku mengerti jika kekesalanmu terlampiaskan dengan pesan itu,
tapi haruskah aku membayar mahal dengan perpsisahan tanpa pertemuan di antara
kita? Setidaknya senyumku dapat mengantarmu sampai pada dermaga tempat kapal
bersandar yang akan membawamu jauh dan kita terpisah karena jarak.
Kamu telah berhasil membuatku merasa
bersalah dan berdosa telah mengabaikan detik yang kamu lalui malam itu, andai
kalimat ini kamu baca, mungkin sikapmu akan berbeda terhadapku.
Malam
sebelum kamu berangkat, aku telah menyiapakan sebuah kado kecil yang akan
menemanimu dalam perjalanan menuju tanah leluhurmu. Kado itu aku akan berikan
saat kamu akan menaiki kapal tempatmu berlabuh, sebuah kejutan kecil penghapus
rasa sedihmu karena perpisahan ini. Tetapi, amarahmu telah menguasai pikiranmu,
hingga tindakanmu tak dapat kamu kendalikan.
Kamu meniggalkanku dengan kado yang
tak tersampaikan ini. Kamu menghukumku dengan beban derita yang mungkin rasa
sakitnya tak pernah ada penawarnya. Haruskah aku mengejarmu dengan
keterbatasanku, berkirim kabar lewat pesan singkat. Langkahku terhenti dan
bersandar di persimpangan yang tak dapat aku tentukan kemana arah harus
mengejarmu memberikan kado ini dan sepujuk surat cinta untukmu sebagai pelipur lara
kala rindu menghantuimu. Surat itu telah aku gambar wajahku dengan hiasan
kalimat sastra penuh makna, tapi semuanya sia-sia saja, waktu tak dapat aku
gulirkan kembali. Roda waktu terus bergulir tanpa ada kuasa menghentikannya, walau
hanya sekejap saja. Kamu pergi membawa lara, meninggalkan duka dalam kado
kesedihan berhias penyesalan. Semoga angin membisikkan untaian kalimatku yang
tak sempat terdengar olehmu.
*****
@syam-panritalopi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar