Minggu, 08 November 2015

Narasi Kepergianmu

            Tanggal 5 Juli adalah hari yang paling kamu nantikan. Hampir sepanjang waktu sebelum tanggal itu tiba, kamu selalu mengatakan akan pergi, meski aku selalu memarahimu karena kata “pergi”. Kata itu selalu kamu ucapkan tanpa memperdulikan perasaanku yang selalu kuwakilkan di balik senyum kecut yang tersimpul dihadapanmu, ketika kamu ucapkan kembali kata itu.
            Entah dengan cara apa, aku harus menyampaikan kekesalanku dengan sikapmu yang seolah-olah tak perduli dengan “perpisahan” yang akan membatasi perjumpaan kita. Detik demi detik, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bahkan bulan ke bulan tak pernah aku bayangkan jika aku melalui itu semua tanpa sosok kehadiranmu di sisiku sebagai pendamping menghadapi waktu.
            Hari-hariku bermakna dan penuh dengan pelangi keceriaan, kini tak lagi seindah sebelumnya. Matahari seakan enggan menampakkan sinarnya dari ufuk timur, karena tertutup kabut awan kelabu yang sepertinya akan meneteskan gerimis. Aku hadapi hari yang cukup panjang bersama kesepian di menemaniku. Malam yang ku nantikan dengan berharap sang ratu malam dapat berbagi kebahagiaan dengan cahayanya penerang malam kelam dan sunyi, tetapi kenyataannya dia juga bersembunyi di balik gelapnya langit, tertutup gulita pemguasa malam.
            Malam sebelum keberangkatanmu kembali pada tanah kelahiranmu, mataku enggan tertutup, mulut terjangkit bisu, tampaknya pikiranku penyebab semua itu. Aku lewati malam yang panjang, tanpa pernah terjaga dari tidurku. Entah apa yang aku rasakan malam itu. Semuanya terasa berbeda padahal keadaannya masih sama. Dadaku mendadak sesak dan keringat mengucur dari dasar mataku. Aku meninggalkanmu malam itu, malam sebelum keberangkatanmu kembali pada tanah kecintaanmu yang jauh di seberang pulau,  bahkan dalam pikiranku tak pernah terjamah bentuk dan suasananya. Aku termenung kaku, menjelajah dalam maya pikiran, mengapa tingkahku tak seperti biasanya. Kebisingan di sekitarku terasa hanyalah nada penumbuh sedih kemudian subur menjadi duka dalam deritaku.
            Dua tahun lima bulan kurang lama belas hari, kita telah terikat dengan ikatan abstrak, yang selalu ku sebut itu cinta. Cinta yang melenakanku dalam setiap gulir waktu. Cinta yang membuatku selalu menyangjungku, mengasihimu bahkan menyayangi lebih dari aku menyaynagi diriku sendiri. Tetapi, tiba pada saat itu, malam sebelum keberangkatanmu, cinta yang aku puja selama itu, seakan luntur bagai tak berwarna lagi, bahkan kelabu tak lagi terlihat di sana. Semuanya seakan menjauhi dan meninggalkanku dalam keterpurukan dan kesendirian.
            Malam itu kita bertengkar kecil. Aku meninggalkanmu sendiri walau aku tahu kamu membutuhkanku saat-saat waktu keberangkatanmu tiba. Tapi bukankah aku meninggalkanmu dalam keadaan baik-baik saja tanpa ada persoalan di antara kita? Aku pergi dengan berpamit seperti biasanya, kamu mencium tangan kanganku dan berucap salam. Tapi aku masih belum paham, mengapa semua itu terasa berbeda bagimu?
            Aku akui, aku telah bersalah tak menghiraukan perasaanmu malam itu. Aku tahu betul kalau kamu sangat butuh diriku untuk melepasakan dahaga kerinduamu dengan berharap aku bisa jadi air penawar malam itu. Tapi, aku tak ingin memberimu dosa. Jangankan dosa, menyakitimu saja tak pernah terlintas dalam benakku untuk melakukan itu, sebab cinta yang bermuara pada hatiku, telah aku serahkan padamu sebagai wujud kasih sayangku dalam ikatan cinta ikatan abstrak itu.
Malam menghampiri fajar. Mentari bersiap menggeser kedudukan sang ratu malam, aku semakin tak karuan bertingkah. Mungkin karena perpisahan ini akan berbeda.
            “Besok ndak usah datang jemput, aku akan pakai mobil sewa saja. Oke!! Ketemunya nanti kalo aku udah balik lagi ke Makassar”. Kalimat yang masuk di kotak pesanku, sebelum aku sempat berangkat ke tempatmu, sungguh itu menyayat sanubariku yang masih kalut dan merana. Tidakkah kamu sadari jika pesan yang kamu kirim itu adalah belatih yang menghujam tepat di posisi jantungku berada, hingga seluruh anggota badanku tak dapat aku gerakkan. Semuanya terasa kaku dan mati.
Sebelum pesan itu sempat aku kirim balasannya, pesanmu yang kedua masuk dengan nada bisu di ponselku.
            “Maafkan jika aku terlalu egois, tapi inilah aku”.
            Kalimat itu tersimpul sirat maksud, bahwa kata egois itu sebenarnya tertuju padaku. Aku mengerti jika kekesalanmu terlampiaskan dengan pesan itu, tapi haruskah aku membayar mahal dengan perpsisahan tanpa pertemuan di antara kita? Setidaknya senyumku dapat mengantarmu sampai pada dermaga tempat kapal bersandar yang akan membawamu jauh dan kita terpisah karena jarak.
            Kamu telah berhasil membuatku merasa bersalah dan berdosa telah mengabaikan detik yang kamu lalui malam itu, andai kalimat ini kamu baca, mungkin sikapmu akan berbeda terhadapku.
Malam sebelum kamu berangkat, aku telah menyiapakan sebuah kado kecil yang akan menemanimu dalam perjalanan menuju tanah leluhurmu. Kado itu aku akan berikan saat kamu akan menaiki kapal tempatmu berlabuh, sebuah kejutan kecil penghapus rasa sedihmu karena perpisahan ini. Tetapi, amarahmu telah menguasai pikiranmu, hingga tindakanmu tak dapat kamu kendalikan.
            Kamu meniggalkanku dengan kado yang tak tersampaikan ini. Kamu menghukumku dengan beban derita yang mungkin rasa sakitnya tak pernah ada penawarnya. Haruskah aku mengejarmu dengan keterbatasanku, berkirim kabar lewat pesan singkat. Langkahku terhenti dan bersandar di persimpangan yang tak dapat aku tentukan kemana arah harus mengejarmu memberikan kado ini dan sepujuk surat cinta untukmu sebagai pelipur lara kala rindu menghantuimu. Surat itu telah aku gambar wajahku dengan hiasan kalimat sastra penuh makna, tapi semuanya sia-sia saja, waktu tak dapat aku gulirkan kembali. Roda waktu terus bergulir tanpa ada kuasa menghentikannya, walau hanya sekejap saja. Kamu pergi membawa lara, meninggalkan duka dalam kado kesedihan berhias penyesalan. Semoga angin membisikkan untaian kalimatku yang tak sempat terdengar olehmu.
*****




























@syam-panritalopi
Jilbab Merahmuda part 1
Sejak kamu mampir dalam hidupku, entah sengaja ataukah sudah ketentuan takdir, kamu dan aku akhirnya bersua pada momen yang menggembirakan. Pesta malam itu, kamu hadir dengan sejuta pesona yang bertebaran di ujung jilbabmu berwarna merahmuda. Mungkin kamu tidak menyadari bahwa seorang lelaki melirik dan sesekali mencuri pandang ke arahmu. Senyum di garis bibirmu yang bermadu semakin menambah syahdu retinaku yang menatapmu tiada henti, bahkan degupan jantungku melebihi dahsyatnya getaran gempa. Jika menatapmu adalah sebuah kekhilafan syahwat, maka biarakanlah aku larut dalam dosa, kelopak mata ini selalu terarah pada wajahmu yang memancarkan sinar keanggunan.
Malam itu merupakan malam beranugerah bagiku, seribu doa ku panjatkan kepada-Nya, agar suatu masa kita dapat bersua meski aku tak tahu siapa namamu dan tinggal dimana. Malam itu cepat berlalu, mentari menyapa dan semuanya berubah menjadi satu warna yang kelabu dan tak kudapati warnamu di sana, mungkin kesucianmu meluluhkan segalanya hingga kamu lebur dan menyatu bersama pancaran sinar sang mentari pengantar raja siang menguasai hari ini.
Semenjak malam itu cepat berlalu, mata ini enggan terpejam dan ingatanku selalu terjaga teringat akan sosokmu yang indah, bayanganmu menjelma di antara cahaya pijar bola lampu yang menggantung di atas tempat tidurku. Merahmuda begitu menyatu dengan raut wajah polosmu, garis bibirmu bagai cakrawala membentang di angkasa perias bulatnya langit. Jika saja aku seorang pujangga, entah berapa ribu puisi tercipta hanya dengan memuji sosokmu, tapi sayangnya aku hanyalah seorang pemimpi yang berpetualang di alam maya berkelana membuntuti bayangmu.
Melihatmu malam itu sungguh merupakan malam sejuta keajaiban bagiku, cerita dongeng tentang bidadari itu benar nyata setelah melihat sosokmu, walau tanpa sayap namun kharismamu menutupi kekurangan. Semoga saja malam itu terulang kembali, hingga kitapun dapat bertemu lagi, karena aku tak ingin menjadi pungguk perindu bulan.
Kini hari silih berganti, tetapi sosokmu tak lekang oleh memoriku. Hari ini adalah hari ketiga puluh setelah malam itu. Doa-doa yang kupanjatkan tak dapat kuhitung banyaknya. Pintaku hanya satu yang terus kuulang dalam untaian doa, bertemu denganmu lagi wahai bidadari penebar pesona keindahan dari ciptaan-Nya. Jika kita di takdirkan bertemu kembali, maka pada saat itu tak akan kulewatkan sedetikpun untuk mempertanyakan segalanya tentangmu, bahkan setidaknya aku tahu siapa panggilanmu.
Setelah beribu kali merengek dalam doa, akhirnya saat yang aku nantikan setelah ribuan menit terlewatkan, aku melihatmu tanpa sengaja di sebuah keramaian tempat orang datang dan pergi dengan tujuan mereka masaing-masing. Aku melihatmu dari kejauhan dan memperhatikan gelagakmu, mungkin saja kamu sedang menunggu seseorang atau akan melakukan perjalanan jauh dengan ransel besar yang kamu bawa serta kala itu. Langkahku segera saja membawaku menghampirimu meski mungkin kamu tak ingat aku, tapi setidaknya bibirku menyapamu ketika itu.
“Hai!!, maaf ganggu. Kamu yang malam itu pakai jilbab merahmuda kan?”. Dengan haru-biru bercampur deg-degan bibir ini melontarkan kalimat spontan dengan aksenku terkesan kampungan penuh semangat.
Senyum itu yang tak dapat aku hilangkan dari memoriku, senyum yang kamu suguhkan ketika menoleh ke arahku dan menjawab pertanyaanku. “Maaf ya, anda siapa? dan malam itu? Maksudnya?”. Kamu terlihat bingung dan tak mengerti maksudku.
“Sebulan yang lalu kamu datang ke pesta pernikahan kakaknya Riska kan? Aku juga datang, dan aku lihat kamu pakai jilbab merahmuda di sana saat itu”.
Beberapa detik kamu berpikir dan akhirnya ingat juga waktu itu. “Oh, iya, benar, koq masih ingat saja sih, kan udah lumayan lama. …………….”.
Perbincangan kita saat perjumpaan di terminal kala itu, kini menjadi kisah bersejarah dalam hidupku. Kita sering bermukanikasi bahkan intens berbagi kerinduan satu sama lain. Kebersamaan kita akhirnya  menuai benih asmara, aku berkeinginan menyatakan perasaan yang setelah sekian lama terpendam di sanubari tanpa dasar dalam hatiku dan tetap utuh tanpa terkikis oleh jarak dan waktu.
Hari yang kunanti tanpa henti tiba juga, aku akan lumatkan kalimat saktiku padamu, kamu mengajakku bertemu di tempat ketika aku dan kamu berbincang untuk pertama kalinya. Kamu duduk sembari melihat jam tangan di pergelangan tangan kananmu dengan raut wajah cemas campur gelisah, entah kamu sedang menunggu seseorang ataukah akan bepergian jauh, sebab aku lihat ransel pakaianmu di bawa serta hari itu. Rencana untuk mengujarkan kalimat saktiku jadi terasa terganggu. Aku hanya bisa pandang kegelisahan yang membuncah di sorot retinamu. Aku seringkali mengajakmu bicara tetapi hanya sesekali kamu perhatikan dan jawab pertanyaanku.
Tak lama kemudian, sebuah mini bus berhenti di hapan kita, kamu dengan spontan berdiri dan sedikit terburu-buru mengangkat ranselmu ke atas mobil itu dan tak butuh waktu lama kamu pun berada di dalamnya. Aku hanya heran saja tanpa bias menebak yang terjadi bahkan kuterpaku tak dapat berbuat apapun saat itu. Dari atas mobil, kamu memanggilku dari balik jendela. Aku menghampirimu dengan menitipkan kerinduan di pangkuanmu agar kamu bisa bawa serta jadi teman penghibur dalam perjalananmu. Kamu menyodorkan selembar kertas, ternyata itu adalah potretmu. Aku membisu, diam seribu bahasa dan tak mengerti maksud dari semua ini, aku terperanjat kaku. Mobil yang kamu tumpangi bergerak pergi, aku masih berdiri kaku di tempatku, aku tak mendengar ucapan selamat tinggal dari bibirmu, kamu tunjuk potret yang kamu sodorkan lalu berkata “senyumku abadi di situ!”, lalu mobil itu bergerak membawamu pergi, mungkin saja kita adalah jelmaan roda mobil itu yang selalu beriring berdampingan tapi tak pernah bertemu pada satu titik, ataukah takdir sedang mempermainkan kita, bukankah roda waktu berputar hanya untuk melewati pertemuan dan memberikan balada perpisahan pada akhirnya? Huffttmm, mungkin saja jawabnya ada di balik awan yang mengikuti sang raja siang kembali ke peraduannya, agar sang dewi malam bisa menyapaku, setidaknya menemaniku menikmati kesunyian tanpamu.
Jika mengenangmu adalah sebuah kesalahan, aku hanya ingin dihukum bertemu denganmu kembali. Bukankah hidup hanyalah dua hari, satu hari kesedihan dan hari berikutnya kebahagiaan. Aku telah usai menempuh dan melewati tumpuan hari yang melelahkan fisik terlebih lagi derita batin menjangkiti dasar sukmaku, mungkin aku telah lewati hari pertama dan berhak mendapatkan hari berikutnya. Asal kamu tahu saja, sejak kamu pergi meninggalkanku, temanku hanyalah kesepian.
Kamu telah pergi dengan bagian yang hilang, itulah sebabnya kamu selalu menghantuiku dengan bayangmu melintasi imajinasi dalam benakku yang kaku akan dirimu. Aku hanya tidak ingin jadi musafir, rutin bertemu lalu berpisah dan melupakan. Tentangmu tak akan menjadi kenanganku tapi realitaku. Jika, Tuhan menuntun arah langkahku menuju padamu, akankah derita ini kamu balut dengan kerinduan?
*****




@syam_panritalopi

 Essai Cinta

            Jika air sungai terus mengalir dari hulu hingga ke muara, airnya akan tetap mengikuti jalur dan arus, walau tak tahu pasti kapan akan berhenti pada muara yang membuatnya tenang dan menyatu dengan genangan air yang lainnya. Begitupula dengan rasa cinta. Cinta selalu membuat yang mustahil jadi nyata, meski berusaha mengingkarinya, tetapi cinta tidak pernah salah dalam menentukan pilihan. Kedatangannya begitu tiba-tiba dan misterius, tiada yang dapat merencanakan akan kehadirannya dan kepada siapa ia akan bersua. Getaran jantung buat dada bergetar, hati gelisah tak karuan hingga pikiran pun tak tenang, melayang-layang, menandakan seseorang itulah dilanda kasmaran yang ditimbulkan oleh kehadiran cinta.
            Problematika tentang cinta tak pernah lapuk oleh masa dan tak akan lekang oleh zaman, sebab keberadaannya telah menandai terciptanya makhluk yang bernama Adam. Bukankah Adam tercipta dari cinta sang Ilahi. Seringkali kita mendengar legenda tentang cinta manusia pertama, tentang Adam yang mencintai Hawa, yang konon katanya tercipta dari bagian dirinya. Adam adalah lambang dari kebesaran dan keperkasaan para lelaki hingga masa kini, dan Hawa, bukankah ia adalah bagian yang terpenting dari lelaki itu sendiri yang selalu disematkan pada kaum perempuan.
            Betapa fenomena cinta telah mewarnai dunia dengan segala warnanya. Dari Adam dan Hawa hingga kini pada manusia akhir zaman selalu membicarakan tentang cinta. Ada apa dengan cinta? Jawabannya selalu berada pada seseorang yang pernah merasakannya, baik itu sesaat maupun selamanya dalam hidupnya. Cinta banyak golongannya, tetapi cinta yang sanantiasa membawa kemudaratan adalah cinta yang dikamuflase oleh nafsu. Mencintai adalah hak setiap manusia, dan dicintai adalah anugerah yang seharusnya disyukuri.
            Entah cinta ataupun nafsu, pertandanya hanyalah kekosongan belaka, toh semuanya dikendalikan oleh pikiran yang pada akhirnya membawa pengaruh pada nurani. Menurut kisah, Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, hingga mereka bersatu menjadi satu bagian yang utuh dan sempurna. Bukankah cinta pun demikian? Pasangan jiwa telah ditakdirkan-Nya, sebelum kita menatap dunia dengan segala keindahan dan kesenangan yang ditawarkannya sewaktu malaikat roh meniupkan kehidupan pada jasad kita, ketika keluar dari kandungan sang ibu. Seiring dengan itu, waktu berganti dan bumi terus berputar hingga penantian waktu dimana hari tiba, kita akan dipertemuakan oleh sosok yang menggetarkan jiwa dan hati yang kemudian kita menyebutnya itu cinta.
            Lantas, siapakah yang menjadi penuntun kita dalam menemukan sosok itu? Apakah jodoh akan melakukannya? Semua tanya yang tiada menuai jawab, akan berakhir pada kalimat kepasrahan, mengembalikan semuanya kepada-Nya, dan berserah diri, termasuk persoalan cinta dan memilih serta menentukan cinta kepada siapa ia akan berjodoh. Bukankah jodoh ada ditangan masing-masing setiap insan yang merupakan anugerah dan karunai dari-Nya. Segalanya tak akan pernah terpisah dari kehendak-Nya. Bukankah setiap manusia harus mengimani yang tak kasat mata? Jika kita memegang jodoh itu sendiri, maka percayalah, jalan Tuhan akan memberikan cahayanya dalam mempertemukan kita belahan jiwa yang terpisah selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya, hingga kita bersua dengannya pada saat dan tempat yang telah digariskan dan ditentukan-Nya.
            Jika memang kita memiliki belahan jiwa, maka diri dan tibuh kita tidaklah sempurna dan utuh jika hanya dipandang dari fisik semata, tetapi secara batin telah “cacat” hingga bertemu dengan siapa belahan jiwa itu yang menjadi pasangan jiwa kelak. Luasnya samudra, tingginya gunung, semuanya tak dapat jadi penghalang untuk mempersatukan jiwa yang “catat” hingga menjadi sempurna dan utuh sebagaimana seharusnya, bahkan tajamnya pedang tak dapat jadi penghambat bersatunya dua insan jadi satu kesatuan yang sempurna.
            Jika tulang rusuk telah bersamanya, lantas dengan jalan apa kita dapat menemukannya, bukankah tantangan manusia adalah waktu? Yang menentukan segalanya dan memberikan segalanya. Setidaknya waktulah yang memiliki andil besar dalam episode penyatuan itu. Haruskah semuanya dipasrahkan pada waktu yang telah mengeleminasi semuanya yang pernah hidup? Mengapa semuanya harus berharap pada yang seketika dapat merubah segalanya. Tidak, kita tidak pernah berhenti melawan waktu bahkan tiap detiknya, sebab indah pada waktunya adalah deretan kata yang penuh dengan kekosongan tanpa harapan dan perjuangan. Segalanmya harus diraih dengan perjuangan yang mengharuskan tumbal pengorbanan, keangkuhan pada waktu akan memotong-motong habis hingga punah layaknya lapuk termakan usia waktu.
            Begitupun pada konteks dan persoalan tentang pada apa yang urgensi disebut cinta. Jika cinta ditandai dengan rasa, maka rasa apa yang bisa menandai cinta? Bukankah rasa bagian dari cinta? Kemudian bercabang dengan kasih sayang, yang mengobarkan bara api asmara hingga yang merasakannya terbakar hangus olehnya. Aku pernah melintasi lorong waktu, berkelana di dalamnya jadi musafir, hingga pada suatu masa aku menjumpai seorang gadis, menurutku, dialah bagian dari diriku. Tetapi, pertanda cinta dengan getaran di hati tiada terasa. Kemudian aku memaksakan itu terjadi, namun apalah daya, mendung yang tak kusangka menuangkan air hujan ternyata membasahi segenap tubuh, hingga dinginnya menyelimuti diriku terlebih lagi sukmaku. Basah dalam keadaan kering, tersenyum dalam simpul kesedihan, setidaknya kamuflase berhasil menghalau kepahitan datang. Tetapi, bukankah itu bagian dari intermezo yang ditawarkan cinta? Segalanya menjadi manis, bahkan kopi pun tak terasa pahit jika sedang merasakan cinta. Apa cinta itu? Apakah gula pemanis kopi kehidupan? Ataukah sepi yang bersandiwara jadi pelengkap kesendirian? Semuanya ada pada catatan waktu, toh dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas segalanya.
            Dari musim panas, hingga musim penghujan tiba, semuanya berlalu tanpa makna. Tanpa kata cinta dan tanpa rasa cinta. Kesendirian bersahabat dengan kesedihan, pilu meranakan jiwa dan derita menjelma taji yang menusuk hingga sakitnya tak terasa sakit lagi karenanya. Semuanya terjadi bukan pada semestinya, hingga aku bersandar pada pohon yang kusebut itu pohon kehidupan terdapat pada sosok gadis berparas bidadari. Semuanya seakan cerah dan bersinar kembali. Warnya yang dulu kelabu, kini jadi memerah bak mawar sedang merekah harumnya semerbak. Segalanya aku sandarkan padanya, bahkan impian dan pengharapanku pada cinta, semuanya aku pasrahkan padanya hingga aku tak lagi memiliki nurani yang mampu menakarnya. Segalanya aku berikan, tetapi benar kata pepapatah, “selamaya pungguk hanyalah perindu bulan”.

*****



















@syam_panritalopi